Catatan Popular

Sabtu, 14 Mei 2011

Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas


Tulisan ini alfaqir persembahkan untuk mengenang dan menghargai AN NASSABAH Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Asseggaff akan jasa-jasa beliau dalam mensensus alawiyyin di Nusantara. Hal ini dikarenakan akan kesedihan hati alfaqir bahwa ternyata banyak alawiyyin generasi sekarang yang tidak mengenal beliau padahal beliau lah yang pertama kali mengadakan sensus terhadap alawiyyin nusantara.



Saat akan hamba mulai menulis tentang dirimu duhai yang dicintai oleh Ar Rasul dan Hababati Fathimah Az Zahra ada rasa malu yang teramat. Namun jiwa ini tak dapat menahan keinginan yang teramat kuat yang membuat hamba yang faqier ini menuliskan sekilas riwayat hidupmu. Tulisan ini hanyalah ungkapan rasa terima kasih dari hamba yang berusaha menunjukkan ungkapan kepada mu. Walau ini jauh dari kesempurnaan namun hannya ini yang hamba mampu lakukan.



Beliau adalah seorang yang menjauhkan diri dari ketenaran(khumul) yakni mengikut kebiasaan para datuk-datuknya terdahulu.beliau adalah An Nassabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Al Alwi Abdurrahman Asseggaff.





Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Asseggaff lahir di Palembang Sumatera Selatan 22 Rabi’ul Awwal 1307 H/16 November 1889 M, beliau adalah generasi pertama yang lahir di Nusantara. Kakek/datuk dari Habib Ali adalah Al Habib Syech bin Sagaf bin Ahmad Aseggaff dikenal seorang yang ‘alim di masanya, beliau lahir pada tahun 1258 H/1842 M dan wafat 1322 H/1905 M di Sewon Hadramaut Yaman Selatan.





Silsilah dari garis ayah :



Ali bin Ja’far bin Syech bin Sagaf bin Ahmad bin Abdullah bin Alwi bin Abdullah bin Ahmad bin Abdurahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwi bin Ahmad Maula Maryamah bin Alwi bin Al Imam Al Qutb Abdurrahman Asseggaff bn Muhammad Mauladawilah bn Ali bn Alwi Al Qhoyyur bin Muhammad Faqih Muqaddam bn Ali bn Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi' Qasam............ Rasulullah MUHAMMAD SAW.



Silsilah dari garis ibu :



Syarifah Futum binti Alwi b Ahmad b Alwi bin Ahmad bin Al Qutb Ali bin Abdullah bin Abdurrahman bin Ali bin Aqil bin Abdullah bin Abubakar bin Alwi bin Ahmad bin Al Imam Al Qutb Abubakar As Sakran bin Al Imam Al Qutb Abdurrahman Asseggaff bn Muhammad Mauladawilah bn Ali bn Alwi Al Qhoyyur bin Muhammad Faqih Muqaddam bn Ali bn Muhammad Shohib Mirbat bin Ali Kholi' Qasam............ RasulullahMUHAMMAD SAW.





Ayah dari Habib Ali adalah Al Habib Ja’far bin Syech bin Saqaf Asseggaff lahir di Sewon,beliau adalah seorang penyiar agama Islam yang berhijrah dari Sewon Hadramaut ke Palembang, kehidupan beliau sangat sederhana. Di Palembang Al Habib Ja’far bin Syech bin Sagaf ini menikah dengan As Syarifah Futum binti Alwi bin Ahmad bin Alwi bin Ahmad bin Al Qutb Ali bin Abdullah Asseggaff. Dari pernikahan ini lahirlah Al Habib Abdullah dan Al Habib Ali(An Nasabah/shohibul Manaqib). Kemudian Al Habib Ja’far bin Syech Asseggaff berhijrah ke Jakarta dan menikah dengan Syarifah Rugayyah binti Abdullah bin Husin bin Abdurrahman bin Sahl Jamalullail. Dari pernikahan ini lahirlah Habib Umar dan Khadijah. Al habib Ja’far bin Syech terus melanjutkan dakwanya di Wilayah Jawa barat hingga beliau wafat di wilayah Cijeruk Sukabumi.



Kisah Dalam Menuntut Ilmu



Al Habib Ali bin Ja’far menghabiskan masa kecilnya di Palembang,menjelang remaja beliau di kirim ke Sewon tempat kelahiran ayahnya. Pada masa itu di Sewon dipenuhi bintang gemintang ulama yang memiliki keunggulan dalam bidangnya masing masing. Diantaranya adalah Al ‘Allamah Al Wali An Nassabah Mufti Hadramaut Shohibut Fatwa Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyur Syahabuddin. Al Habib Ali bin Ja’far saat itu belajar langsung dengan Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur ini. Bagi Alawiyin yang mengerti dan belajar nasab maka nama Al Habib Abdurrahman ini sangat dikenal dan menjadi satu dengan ilmu nasab. Beliaulah pengarang kitab Nasab yang merupakan panduan utama buat meneliti dan menentukan kebenaran nasab seseorang. Kitab tersebut adalah Syamsu Azh-Zhahirah,Al Habib Ali bin Ja’far dalam beberapa tahun mengkaji dan mempelajari kitab nasab tersebut secara teliti dan menyeluruh. Pada saat Al Habib Ali bin Ja’far ini pulang ke Indonesia, beliau membawa 7 Jilid Kitab Nasab yang merupakan karya dari Al Allamah An Nasabah Al Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin.



Sensus Alawiyyin Nusantara



Dengan berpijak kepada buku “Syamsu Azh-Zhahirah” ini maka An-Nasabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech bin Sagaf Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Asseggaff melanjutkan pencatatan nasab ini hingga pada generasi beliau dengan melengkapi catatan tambahan. Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Assegaf atas bantuan dari Al Habib Syech bin Ahmad bin Muhamad bin Umar bin Syahabuddin melaksanakan sensus Alawiyin dan selesai pada tanggal 18 Dzulhijjah 1358 H / 28 Januari 1940 M. Jumlah yang tercatat saat itu adalah 17.764 orang. Sensus ini dilakukan per-daerah yang memuat secara rinci data-data Alawiyin baik itu daerah, tempat dan tanggal lahir, jenis kelamin, statusnya, Umurnya, kemampuan bahasa Arab, Indonesia atau Belanda, dihimpun dalam satu buku yang menyajikan data tersebut secara tertib dan terperinci. Buku ini cukup besar dan tebal karena menyebutkan nama satu individu hingga beberapa generasi ke atas serta dengan keterangan keterangan yang lengkap. Sebagai contoh sensus daerah Betawi,Surabaya,Palembang,Pekalongan dan lain lain. Dari buku buku sensus perdaerah ini selanjutnya di buat satu buku yang hanya memuat Nama daerah,jumlah Alawiyin yang ada dan nama qabilah qabilah yang ada di daerah tersebut. Buku ini tipis dengan ukuran kertas yang biasa atau dengan kata lain buku ini merupakan Buku Rekap Sensus Alawiyin.



Dari hasil sensus ini oleh An Nasabah Al Walid Al Habib Ali bin Ja’far bin Syech Al Fargas Al Ahmad Maula Maryamah Asseggaff dihimpun dalam buku nasab sebanyak 7 Juz / jilid. Buku ini memuat dengan rinci semua alawiyin diberbagai Negara yakni Indonesia, Semenanjung Melayu, Singapora, Yaman Selatan dan Utara, Afrika,India,Oman dan lain lain. Buku Al Habib Ali bin Ja’far ini sempat ditulis ulang di Singapora, sama persis dengan yang asli hanya saja berbeda style tulisannya. Buku 7 Juz/jilid karya Habib Ali bin Ja’far ini adalah kelanjutan dari buku 7 jilid karya dari Al Allamah Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin .Selanjutnya pada tahun 1954 didirikan Lembaga Pencatatan,Penelitian dan Pemeliharaan Nasab Alawiyin yang dinamakan “Al Maktab Ad Daimi”, yang berpusat di Jakarta. Karena peranan Al Habib Ali bin Ja’far yang sangat menguasai tentang nasab saat itu maka tidak ada orang yang pantas menduduki jabatan ini kecuali beliau,beliaulah yang diangkat sebagai Ketuanya dan wakilnya adalah Habib Hasyim bin Muhammad Al Hadi bin Ahmad Al Habsyi,disamping itu juga ada 2 orang sebagai penasehat lembaga ini yaitu Habib Alwi bin Thahir Al Haddad(Mufti Johor) dan Habib Ahmad bin Abdullah As Shofie Asseggaff. Pada masa kepengurusan ini Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff menyerahkan buku 7 jilid yang beliau bawa dari Hadramaut karya Al Allamah Abdurrahman bin Muhammad bin Husin Al Masyhur Syahabuddin kepada pengurus Maktab Ad Daimi saat itu,sementara buku 7 jilid karya Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff tetap ditangan beliau.Dari 7 jilid buku nasab ini kemudian dikembangkan menjadi 16 Jilid / juz dan dibuat 4 rangkap yakni satu rangkap buat di Jakarta, satu buat Pekalongan, satu buat Surabaya dan satu buat Palembang. Buku ini dinamakan buku Induk Syajarah Nasab Alawiyin yang saat ini dijadikan sebagai buku rujukan dalam pencatatan dan penelitian untuk menentukan kebenaran nasab setiap individu Alawiyin.



Mundur Dari Maktab Daimi



Pada tanggal 30 November 1956,Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff mengundurkan diri sebagai ketua di Maktab Ad Daimi. Namun demikian karena nasab ini sudah menyatu pada jiwanya maka beliau tetap mengadakan perjalanan ke berbagai tempat untuk mencatat dan meneliti nasab Alawiyin. Buku karya beliau ini selalu beliau bawa dalam penelitian di berbagai tempat. Dalam buku ini beliau mencatat hampir semua Alawiyin yang ada di seluruh Indonesia, Malaysia, Singapora, India, Afrika, Hadramaut, Turki dan Jazirah Arab lainnya.Buku 7 jilid ini semuanya berjumlah hampir 2000 halaman,selain buku ini beliau juga membuat catatan catatan dalam lembaran yang jumlahnya tidak terhitung.



Sosok kepribadian beliau sangat bersahaja,hampir sebagian besar kehidupan beliau digunakan untuk meneliti dan mengabdi kepada penjagaan nasab. Beliau adalah satu satunya Ahli Nasab terakhir yang tak dapat ditandingi oleh siapapun dengan Maha Karyanya yang hingga sekarang di jadikan rujukan utama dalam meneliti dan melacak kebenaran nasab seseorang khususnya buat keluarga para Habaib yang berasal dari Hadramaut.



Beliau memiliki berbagai sifat-sifat leluhurnya yang berbuat hanya mengharap ke Ridhaan ALLAH semata,beliau seorang putra terbaik Alawiyin yang sangat Ikhlas dalam berbuat.Salah satu sifatnya adalah Khumul(tak mau dikenal khalayak ramai) sehingga sampai saat ini banyak sekali orang tidak mengetahui akan peranan beliau yang sangat dominan dalam pemeliharaan kerapian dan kemurnian nasab ini. Namanya beliau tenggelam tertelan oleh nama nama orang yang masyhur/terkenal ataupun tertutupi nama organisasi yang di dalamnya beliau mengabdi. Sehingga sangat wajar sekali sampai saat ini orang tidak tahu sama sekali akan semua karyanya dan kita tak akan mendapatkan gambar gambar pribadinya di rumah rumah keluarga Alawiyin sebagaimana lazimnya kita lihat gambar para habaib habaib yang lainnya. Beliau adalah satu satunya Ahli Nasab,yang pertama dan terakhir yang dimiliki oleh keluarga Alawiyin dengan karyanya yang luar biasa. Walaupun setelah beliau ada yg melanjutkan mengurus nasab namun tak ada orang yang setara dan sekelas beliau sampai kapanpun.



Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff nikah dengan Syarifah Aisyah binti Abdullah bin Abdul Ma’bud bin Khidir bin Jarjis bin Ahmad Al Kadzimie Al Musawi Al Bagdadi di Jakarta,dari perkawinan ini lahirlah : 1.Syayyid Mustofa (wafat di Jakarta 1985) keturunan beliau saat ini semaunya ada di Jakarta 2.Syarifah Maryam (masih ada sampai saat ini di Jakarta) 3.syarifah Wasilah (wafat umur 5 tahun).Beliau juga nikah dengan Syarifah Tejun bin Yahya dan memiliki anak Syarifah Raguwan dan syarifah Salwa,saat ini Syarifah Tejun bin Yahya ada di Tuban Jawa Timur.



Beliau wafat di Jakarta pada tahun 1381 H / 1962 M dan dimakamkan di pekuburan karet wakaf (sekarang jadi sekolahan Said Naum) di Tanah Abang Jakarta Pusat,kemudian makam ini dibongkar dan dipindahkan oleh Gubernur DKI ke Pekuburan Umun Karet Jakarta. Sampai saat ini makam beliau tak diketahui letak pastinya karena saat pembongkaran kuburan keluarga beliau tak diajak beruding . Inilah suatu keadaan yang sangat sedih dan memprihatinkan sekali dan yang lebih memprihatinkan lagi banyaknya orang orang yang mengurus nasab namun tidak pernah mengenal akan beliau”An Nasabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff.”Tiadalah orang dapat bersyukur kepada ALLAH sebelum dia dapat mengucapkan terima kasih kepada Mahluknya “.Tiadalah orang dapat mengurus nasab sebelum mengenal siapa dan apa saja hasil maha karya Al Habib Ali bin Ja’far Asseggaff.Alangkah baiknya bila kita semua keluarga Alawiyin mengetahui akan manaqib beliau ini.



Demikianlah Manaqib singkat ini dapat hamba yang faqier tulis dengan penuh sangat keterbatasan yang ada.Semoga bermanfat bagi orang orang yang masih memiliki perhatian terhadap kemurnian dan kerapian nasab Alawiyin.



Sumber Tulisan:

Manaqib An Nassabah Al Wali Al Habib Ali bin Ja'far Asseggaff oleh Alidien Hasan Al Ali bin Abdullah Asseggaff Jakarta, November 2008

KEUTAMAAN NABI MUHAMMAD SAW.


KEUTAMAAN NABI MUHAMMAD SAW
Kalam Al-Habib Zain bin Ibrahim Bin Sumaith



Kita wajib menyakini bahwa Allah SWT mengutus para Rasul-Nya kepada umat manusia dengan membawa kabar gembira dan peringatan, dan Allah menjadikan seorang yang berasal dari Bani Hasyim, suku Arab Quraisy, yaitu Muhammad bin Abdullah, sebagai penutup para Nabi dan Rasul.



Beliau telah menyampaikan risalah dan menyampaikan amanat, jujur dalam menyampaikan apa yang diperintahkan kepadanya, baik urusan dunia maupun agama. Syariat beliau kekal dan menghapuskan syariat para Nabi sebelumnya. Nabi Muhammad SAW adalah manusia terbaik dibandingkan dengan seluruh manusia yang ada, baik yang dahulu maupun yang akan datang. Beliau adalah penutup para Rasul dan junjungan seluruh anak cucu Adam.



Beliau adalah orang pertama yang dibangkitkan pada hari kiamat, dan orang pertama pula yang menerima dan memberikan syafaat. Beliau juga adalah orang pertama yang masuk ke dalam surga. Allah memberikan kekhususan kepada beliau dengan asy-syafa’ah al-’udzmaa (syafaat yang teragung), yaitu kedudukan yang terpuji, dan dianugerahi al-kautsar yaitu telaga di surga, serta wasilah yaitu derajat yang tinggi di surga, dan kekhususan-kekhususan lain.



["Mengenal Mudah Rukun Islam, Rukun Iman, Rukun Ihsan, Secara Terpadu", Habib Zain Bin Sumaith, Penerbit Al-Bayan]

Mutiara Nasehat al-Habib Umar bin Hafidz


Mutiara Nasehat al-Habib Umar bin Hafidz

1. Penuhilah hatimu dengan kecintaan terhadap saudaramu niscaya akan menyempurnakan kekuranganmu dan mengangkat derajatmu di sisi Allah
2. Barang siapa Semakin mengenal kepada allah niscaya akan semakin takut.
3. Barang siapa yang tidak mau duduk dengan orang beruntung, bagaimana mungkin ia akan beruntung dan barang siapa yang duduk dengan orang beruntung bagaimana mungkin ia tidak akan beruntung.
4. Barang siapa menjadikan kematiaannya sebagai pertemuan dengan sang kekasih (Allah), maka kematian adalah hari raya baginya.
5. Barang siapa percaya pada Risalah (terutusnya Rasulullah), maka ia akan mengabdi padanya. Dan barang siapa percaya pada risalah, maka ia akan menanggung (sabar) karenanya. Dan barang siapa yang membenarkan risalah, maka ia akan mengorbankan jiwa dan hartanya untuknya.
6. Kedekatan seseorang dengan para nabi di hari kiamat menurut kadar perhatiannya terhadap dakwah ini.
7. Betapa anehnya bumi, semuanya adalah pelajaran. Kukira tidak ada sejengkal tanah di muka bumi kecuali di situ ada ibrah (pelajaran) bagi orang yang berakal apabila mau mempelajarinya.
8. Sebaik-baik nafsu adalah yang dilawan dan seburuk-buruk nafsu adalah yang diikuti.
9. Tanpa menahan hawa nafsu maka manusia tidak akan sampai pada Tuhannya sama sekali dan kedekatan manusia terhadap Allah menurut kadar pembersihan jiwanya.
10. Jikalau sebuah hati telah terbuka, maka akan mendapatkan apa yang diinginkan.
11. Barang siapa yang mempunyai samudra ilmu kemudian kejatuhan setetes hawa nafsu, maka hawa nafsu itu akan merusak samudra tersebut.
12. Sesaat dari saat-saat khidmat (pengabdian) , lebih baik daripada melihat arsy dan seisinya seribu kali.
13. Menyatunya seorang murid dengan gurunya merupakan permulaan di dalam menyatunya dengan Rasulullah SAW. Sedangkan menyatunya dengan Rasulullah SAW merupakan permulaan untuk fana pada Allah (lupa selain Allah)
14. Manusia di setiap waktu senantiasa terdiri dari dua golongan, golongan yang diwajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas sujud dan golongan yang di wajahnya terdapat tanda-tanda dari bekas keingkaran.
15. Barang siapa yang menuntut keluhuran, maka tidak akan peduli terhadap pengorbanan.
16. Sesungguhnya di dalam sujud terdapat hakikat yang apabila cahanya turun pada hati seorang hamba, maka hati tersebut akan sujud selama-lamanya dan tidak akan mengangkat dari sujudnya.
17. Beliau RA berkata tentang dakwah, Yang wajib bagi kita yaitu harus menjadi daI dan tidak harus menjadi qodli atau mufti (katakanlah wahai Muhammad SAW inilah jalanku, aku mengajak kepada Allah dengan hujjah yang jelas aku dan pengikutku) apakah kita ikut padanya (Rasulullah) atau tidak ikut padanya? Arti dakwah adalah memindahkan manusia dari kejelekan menuju kebaikan, dari kelalaian menuju ingat kepada Allah, dan dari keberpalingan kembali menuju kepada Allah, dan dari sifat yang buruk menuju sifat yang baik.
18. Syetan itu mencari sahabat-sahabatnya dan Allah menjaga kekasih-kekasih- Nya.
19. Apabila ibadah agung bagi seseorang maka ringanlah adap (kebiasaan) baginya dan apabila semakin agung nilai ibadah dalam hati seseorang maka akan keluarlah keagungan adat darinya.
20. Bila benar keluarnya seseorang (di dalam berdakwah), maka ia akan naik ke derajat yang tinggi.
21. Keluarkanlah rasa takut pada makhluk dari hatimu maka engkau akan tenang dengan rasa takut pada kholiq (pencipta) dan keluarkanlah berharap pada makhluk dari hatimu maka engkau akan merasakan kenikmatan dengan berharap pada Sang Kholiq.
22. Banyak bergurau dan bercanda merupakan pertanda sepinya hati dari mengagungkan Allah dan tanda dari lemahnya iman.
23. Hakikat tauhid adalah membaca Al Qur’an dengan merenungi artinya dan bangun malam.
24. Tidak akan naik pada derajat yang tinggi kecuali dengan himmah (cita-cita yang kuat).
25. Barang siapa memperhatikan waktu, maka ia akan selamat dari murka Allah.
26. Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.
27. Orang yang selalu mempunyai hubungan dengan Allah, Allah akan memenuhi hatinya dengan rahmat di setiap waktu.
28. Salah satu dari penyebab turunnya bencana dan musibah adalah sedikitnya orang yang menangis di tengah malam.

AL HABIB SYEKH BIN AHMAD BAFAQIH ( BOTO PUTIH SURABAYA )

Habib Syekh dilahirkan di kota Syihr pada tahun 1212 H anak dari Habib Ahmad Bafaqih dan silsilahnya sampai kepada Nabi Muhammad Rasululloh SAW

Dakwah:
Setelah beberapa lama memperdalam pengetahuannya disana-sini, pada tahun 1250 H, Habib Syekh mulai berani mengambil langkah dakwah menyebarkan ilmunya. Ia sempat menjelajahi beberapa kota di Nusantara, sebelum akhirnya memutuskan berlabuh dikota Surabaya.
Di Surabaya inilah, mulai memancarkan cahaya pengetahuannya. Ia mengajarkan ilmu-ilmunya kepada para penuntut ilmu sekitar. Mulai dari Fiqih, Tauhid, Tasawuf dan lainnya. Hingga akhirnya, ditengah hingar bingar dakwahnya itu, ia diangkat oleh Allah SWT menjadi salah satu walinya. Semenjak itu pula, ia sering terhanyut alam Rabbaniyah, dan karamah-karamah ynag luar biasa senantiasa mengisi kesehariannya.

Sebagaimana seorang sufi, Habib Syekh Bafaqih memiliki kepekaan yang tinggi akan syair-syair sufistik. Ia begitu mudah terbawa terbang oleh syair-syair gubahan para tokoh sufi. Apalagi bila menyenandungkan syair itu adalah adiknya sendiri, Sayid Muhammad Bafaqih yang bersuara emas, bisa-bisa ia mabuk kepayang semalaman.

Dakwah Habib Syekh ditanah jawa amatlah sukses. Ia berhasil mengislamkan banyak orang. Selain itu, ia juga berhasil mencetak beberapa ulama. Walhasil, ilmunya benar-benar menyinari belantara jawa yang masih awan kala itu.

Karomah dan Keutamaan:

Pada suatu ketika tibalah Habib Syekh di kediaman salah satu pecintanya. Ini bukan kunjungan biasa, akan tetapi kunjungan sarat hikmah. Pasalnya, begitu ketemu shahibul bait, Sang Wali menggelontorkan permintaan yang agak ganjil.”Aku menginginkan dua lembar permadani ini.” titahnya.
Sang pecinta terkesiap. Bagaimana tidak, yang diminta junjungannya itu adalah permadani buatan Eropa yang super mahal. Barang itu baru saja dibelinya. Ia amat menyayangi permadani itu hingga ditempatkannya di tempat khusus.
“Bagini saja. Anda boleh minta apa saja, asal jangan permadani ini.” Pinta si pecinta. “Tidak. Aku tidak menginginkan lainnya.” Sang Wali bergeming. Negosiasi alot. Dan akhirnya hati pecinta setengah mencair. ”Baiklah, kalau begitu Anda boleh mengambil satu lembar saja.”
Setelah mendapatkan permintaannya itu, Sang Wali segera beranjak. Sang pecinta adalah seorang saudagar kaya raya. Sewaktu disambangi Sang Wali, Dua armada kapal dagangannya tengah berlayar di lautan dengan membawa muatan yang banyak. Sayang nahas mendera, dua armadanya itu koyak akibat terjangan gelombang. Salah satunya terhempas lalu tenggelam. Sementara satunya lagi selamat dan berhasil mendarat.
Hati saudagar sedikit lega. Syukur, tidak kedua-duanya tenggelam. Ia memeriksa kapalnya yang selamat itu dengan seksama. Dan, terpampanglah pemandangan ajaib dihadapannya. Ya, selembar permadani yang dihadiahkan kepada Sang Wali telah menambal rapat-rapat bagian yang koyak pada perahunya. Ia terpekur, menyesali perlakuannya pada Sang Wali. “Mengapa tidak kuberikan kedua-duanya saja waktu itu.” gerutu hatinya.

Kisah masyhur diatas dihikayatkan oleh Habib Abdul Bari bin Syekh Al-Aydrus,dan dicantumkan dalam manuskrip Tajul A’ras, torehan pena Habib Ali bin Husein Al-Attas.

Suatu malam, Habib Abdullah Al-Haddad, seoarang wali yang dulu dikenal royal menjamu tamu, menyuruh seorang sayid bernama Abdullah bin Umar Al-Hinduan berziarah kepusara Habib Syekh Bafaqih. “Hai Abdullah, pergilah kamu kepusara Habib Syekh sekarang, dan katakan pada beliau,” Abdullah Al-Haddad saat ini butuh uang dua ribu rupiah. Tolong, Berilah ia uang besok !” perintahnya.

Sayid Abdullah segera berangkat. Sesampainya dipusara Habib Syekh, ia membaca ayat-ayat suci dan doa-doa. Kemudian ia membisikkan ke makam kalimat yang dipesankan Habib Abdullah.

Selang dua hari kemudian, Sayid Abdullah berjumpa lagi dengan Habib Abdullah. Wali yang sangat dermawan itu nampak berbunga-bunga. ”Lihat uang ini. Aku terima dari Habib Syekh .” Selorohnya sembari menunjukkan segepok uang pada Abdullah Al Haddad Maklum, dua ribu rupiah uang dulu, sama nilainya dengan dua belas juta ripiah uang sekarang.

Sang Wali yang berkaromah luar biasa itu, tidak lain tidak bukan, adalah Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih, ulama besar yang pusarannya ada didaerah Boto Putih, Surabaya. Dekat masjid Sunan Ampel. Karena itu, masyarakat lebih mengenal beliau sebagai Habib Syekh Boto Putih.

Di masanya, keulamaaan Habib Syekh sulit tertandingi. Pengetahuannya dalam Fiqih, Lughah, Tauhid dan lainnya sangat dalam. Sehingga sewaktu tinggal di Surabaya, beliau menjadi oase yang mengobati dahaga orang-orang yang haus ilmu di ranah Jawa.

Pencapaian luar biasa itu tidaklah didapatkan Habib Syekh dengan mudah dan gampang. Sebab ilmu takkan pernah ditumpahkan dari langit begitu saja. Sejak usia belia, beliau sudah bekerja keras menggali ilmu. Mula-mula ia mempelajari Al-Qur’an dan beberapa bidang pengetahuan syari’at dan tasawuf kepada ayahandanya sendiri, Habib Ahmad bin Abdullah Bafaqih. Kebetulan, Sang Ayah sendiri adalah ulama yang sudah kesohor ketinggian ilmunya.

Ia kemudian mengembangkan diri dengan belajar pada ulama-ulama yang ada di kotanya, Syihr. Pada fase ini, jiwa ilmuannya sedang mekar-mekarnya. Semakin lama hatinya semakin merasakan kehausan tak terkira untuk meneguk pengetahuan sehingga beliau dengan seizin ayahnya memutuskan berangkat ke Haramain unntuk menyelami telaga pengetahuan disana.

Selama di Mekah dan Madinah, beliau belajar kepada beberapa ulama besar, diantaranya adalah Syaikh Umar bin Abdul Karim bin Abdul Rasul At-‘Attar, Syaikh Muhammad Sholeh Ar-Rais Al-Zamzami, dan Al-Allamah Sayid Ahmad bin Alawi Jamalullail. Tak hanya sampai di situ. Ia pun menyempatkan diri tinggal di Mesir beberapa lama, untuk menimba pengetahuan dari guru-guru besar Universitas al-Azhar kala itu.

Wafatnya Habib Syekh bin Ahmad Bafaqih:

Beliau wafat pada tahun 1289 H di Surabaya. Diatas pusarannya dibangun kubah yang megah, sebagai perlambang kemegahan derajatnya. Sampai kini makamnya tak henti-hentinya diziarahi kaum muslimin, untuk bertawasul dengan mengharapkan barokah. Ya Allah, curahkan dan limpahkanlah keridhoan atasnya dan anugerahilah kami dengan rahasia-rahasia yang Engkau simpan padanya, Amin

AL HABIB HUSEIN BIN HADI AL HAMID

Waliyullah Yang Berumur Panjang

Habib Husein termasuk seorang Waliyullah yang berumur panjang dan jauh daripenyakit - penyakit. Selian itu, ia sampai akhir hayatnya tidak pernah absen shalat Subuh berjamaah

Di Desa Brani Kulon, Kraksan, Probolinggo (Jawa Timur), ada seorang Habib yang berumur panjang, ia wafat dalam usia 124 tahun. Ketika ditanya, kenapa ia tidak punya penyakit?
”Di hati saya, tidak mempunyai sedikit pun rasa iri dan dengki terhadap pemberian orang lain,” demikian kata Habib Husein bin Hadi bin Salim Al-Hamid.
Selain itu, kunci dari Habib Husein berumur panjang adalah tidak lain karena ia secara istiqamah shalat Subuh berjemaah di Masjid dan gemar melakukan jalan kaki sekitar satu jam. Habib Husein berjalan kaki tiap sambil berdakwah, setiap tempat yang beliau lalui selalu ia mendatangkan rahmah. Ia berjalan kaki dari rumahnya yang ada di Brani keliling kampung atau ke pasar. Dengan berjalan kaki tiap pagi, seluruh peredaran darah dalam tubuh jadi lancar. Udara segar yang dihirup membuat kesegaran tubuh tetap prima, itulah salah satu keistimewaan waktu dari shalat Subuh.

Habib Husein sendiri lahir di Hadramaut, Yaman Selatan pada tahun 1862 M dari pasangan Habib Hadi bin Salim Al-Hamid dan Ummu Hani. Dari kecil, Habib Husein dididik langsung oleh kedua orang tuanya itu. Patut diketahui, Habib Hadi bin Salim Al-Hamid, ayahanda Habib Husein, dikenal sebagai salah seorang wali yang kesohor di Hadramaut. Habib Husein dibesarkan sampai umur 86 tahun di Hadramaut.

Bagi orang sekarang, usia 86 tahun itu sudah memasuki usia senja, kakek-kakek di mana orang sudah mulai kehilangan kekuatan dan gairahnya. Namun bagi Habib Husein, usia seperti itu tergolong muda. Kekuatannya tak jauh berbeda dengan usia pemuda saat ini. Itulah salah satu kekuatan Habib Husein.

Di usia 86 tahun atau tepatnya 1929 M, ia masih senang mengembara ke berbagai negeri. Termasuk ke Hujarat dengan menggunakan kapal laut bersama saudagar-saudagar Arab yang berdagang melanglang buana ke berbagai negeri. Sejak itu ia Habib Husein meninggalkan Yaman dan tidak pernah kembali lagi ke sana.

Sekitar 2 tahun, Habib Husein tinggal di Gujarat. Selama di Gujarat, ia berguru pada ulama setempat dan berdagang. Setelah itu, ia kembali mengembara ke Indonesia dengan menggunakan kapal saudagar yang menuju Batavia. Tak berapa lama kemudian, ia mengembara lagi ke berbagai daerah dan akhirnya ia sampai ke kota Pekalongan. Di kota ini, Habib Husein kemudian berguru pada seorang wali besar, yakni Habib Ahmad bin Abdullah bin Thalib Alattas hingga beberapa tahun lamanya.

Kepada auliya’ yang sangat terkenal di Kota Pekalongan itu, Habib Husein selain berguru ilmu lahir, ia juga mendalami ilmu batin. Sebagai tanda bahwa Habib Husein telah mencapai maqam kewalian yang mumpuni, ia kemudian dihadiahi sebuah sorban (kain putih) dan kopiah putih dari Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alattas.

Atas pesan Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alattas (Pekalongan), Habib Husein kemudian mengasah ilmu kepada Habib Muhammad bin Muhammad Al- Muhdhor, yang tidak lain adalah guru dari Habib Ahmad bin Abdullah bin Tholib Alatas. Selama menjadi murid Habib Muhammad, Habib Husein senantiasa menadapat perintah untuk berdakwah ke berbagai daerah.

Salah satu tugasnya yang terakhir dari gurunya itu, Habib Husein diperintahkan untuk menyebarkan dakwah ke Brani Kulon, Kecamatan Maron, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Ia masuk ke desa yang terpencil itu sekitar tahun 1939. Saat itu kondisi desa Brani masih berupa hutan belantara dan sarang penyamun. Tampaknya, Habib Husein memang sengaja ditugasi untuk membrantas para penyamun untuk kembali ke jalan Allah SWT.

Setelah Habib Husein tinggal di Brani Kulon, ia langsung membuka dakwah dan dakwahnya itu diterima secara luas ke seluruh pelosok Kab Probolinggo. Tak mudah seperti dibayangkan, Habib Husein tidak langsung menempati rumah mewah di Brani. Ia harus membabat alas terlebih dahulu, bahkan ia hidup menumpang pada salah satu penduduk setempat.

Kendati hanya hidup menumpang, ia tetap gigih berdakwah dalam rangka menyebarkan ajaran Islam. Kendati tempat tinggalnya menumpang, tetapi penyebaran Islam tak pernah berhenti hingga kemudian ia berhasil mendirikan pesantren kecil. Di desa itu pula ia mengakhiri masa lajangnya.

Dalam sebuah perjalanan bersama para habaib dari berziarah ke Makam Habib Husein bin Abdullah Alaydrus (Kramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara). Habib Husein di dalam kereta api pernah dipaksa untuk menyediakan tempat duduknya oleh seorang pemuda kumal dan hanya memakai kaos oblong. Melihat seorang pemuda yang berdiri di depannya, Habib Husein kemudian berdiri sembari menyerahkan tempat duduknya kepada pemuda asing itu. Setelah berdialog beberapa saat dan Habib Husein memberi bekal uang yang tersisa pada pemuda tersebut. Tak berapa lama, tiba-tiba pemuda asing itu menghilang begitu saja. Ketika teman-teman Habib Husein mendapatinya sendirian, dan menanyakan tentang keberadaan pemuda asing tadi, Habib Husein berkata,”Dia itu sebenarnya adalah Nabiyallah Khiddir Alaihi Salam.”

Amaliah Habib Husein tidak saja menyeimbangkan ibadah dengan Allah SWT (hablumminnallah), ia juga menjalin hubungan yang erat dengan Umat (hablumminannas). Sering Habib Husein berjalan-jalan ke pasar dan melihat pedagang yang barang dagangannya tidak habis terjual atau malah tidak terjual sama sekali. Habib Husein tak segan-segan memborong barang dagangan dari pedagang yang ada di pasar agar si pedagang itu tidak menderita kerugian, atau minimal sang pedagang mendapat keuntungan. Tak pelak dengan keseimbangan amaliah itu, dakwahnya diterima dengan baik oleh masyarakat luas.

Tak hanya itu, dalam soal keilmuan, para santri PP Aswaja Brani Kulon sangat mempercayai kalau Habib Husein itu adalah titisan dari Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Ikhwalnya ia mendapat julukan Titisan Syeikh Abdul Qadir Jaelani, adalah ketika Habib Ahmad, salah seorang sahabatnya pernah bermunajat kepada Allah agar bertemu dengan Syeikh Abdul Qadir Jaelani. Dalam mimpinya, ia dipertemukan dengan Syeikh Abdul Qadir Jaelani yang bersorban putih, dan ketika didekati ternyata wajah itu adalah wajah Habib Husein bin Hadi Al-Hamid.

Sebagaimana banyak diketahui, Habib Husein kerap dikunjungi oleh para Habaib pada jamannya seperti salah seorang habib yang dikenal sebagai salah satu pejuang RI yakni Habib Soleh Tanggul (Jember). Habib Husein juga mempunyai kedekatan khusus dengan Habib Abdullah bin Abdul Qadir Bilfaqih (Darul Hadits, Malang) dan lain-lain. Bahkan anak cucu keturunan dari Habib Husein banyak yang masuk pesantren Darul Hadits, seperti Habib Muhammad Shodiq (anak), Habib Abdul Qadir (cucu), Habib Salim (cucu). Sekarang pesantren peninggalan Habib Husein di asuh oleh Abdul Qadir bin Muh Shadiq bin Husein Al-Hamid.

Habib Husein wafat hari Jum’at Legi, 11 Safar 1406 H/25 Januari 1986. Jenazahnya kemudian di makamkan di sebelah utara Masjid Al Mubarok, komplek Pondok Pesantren Ahlus Sunnah Wal Jamaah, Desa Brani Kulon, Kecamatan Maron, Probolinggo, Jawa Timur.

disarikan dari Manakib Habib Husein yang disusun oleh Habib Abdul Qadir bin Muhammad Shodiq bin Husein bin Al-Hamid.

Jumaat, 13 Mei 2011

AL HABIB AL WALID MUHAMMAD BIN ALWI HUSIN BIN HOOD AL ATHAS

Al habib lahir di sebuah desa di daerah Sulawesi Selatan (Ujung Pandang) yang bernama Subik Mandar pada tanggal 14 Mei 1934 , Ayah Al habib bernama Al Habib Alwi bin Husin bin Hasan Al bin Hood Al Athas dan ibunya bernama Rugayyah binti Alwi bin Abdullah bin Sahl Jamalullail. Desa Subik ini adalah suatu daerah nelayan yang berhadapan dengan teluk Mandar , terletak diantara dua wilayah yaitu Majene dan Polewali . Masa kanak-kanak al habib dihabiskan di daerah ini,hingga suatu masa AL Habib diajak oleh pamannya yang bernama Al Habib Ali bin Husin bin Hasan Al bin Hood Al Athas merantau ke tanah Jawa tepatnya di Pekalongan,karena tidak betah dengan suasana baru ini al habib pulang kembali ke Ujung Pandang.

Pada umur 15 tahun al habib kembali merantau ke tanah Jawa tepanya daerah Surabaya, disini al habib bekerja pada Al habib Ja’far Aidid.Setelah tinggal selama 6 tahun di Surabaya al habib menikah pada umur 21 tahun dengan Syarifah Khadijah binti Alwi bin Ali Assofi Asseggaff. Setelah pernikahan ini al habib mendapat kepercayaan yang besar dari Al habib Alwi bin Ali Assofi Asseggaff yang juga merupakan mertua al habib untuk mengelolah pabrik secara penuh tenun kain sarung yang berada di Gapuro Gersik. Sejak saat diberi kepercayaan Al habib tinggal di Gersik,secara ekonomi al habib cukup mapan dan di waktu itu al habib sering menerima tamu dari berbagai lapisan masyarakat Alawiyin yang ada di Jawa Timur bahkan al habib juga mempunyai relasi dagang yang cukup luas dari berbagai daerah di Indonesia.

Kegemaran al habib terhadap nasab ini telah dimulai sejak al habib masih mudah/sebelum nikah dimana waktu itu masih banyak Wulaiti (kaum yang lahir di Hadramaut), dalam setiap acara al habib selalu menyempatkan diri untuk berinteraksi / bergaul dengan segala golongan dengan secara sungguh-sungguh menanyakan nama qabilahnya,asal daeranya dan berbagai masalah yang berkaitan dengan nasab. Terkadang al habib menyempatkan diri berkunjung dengan wulaiti untuk menanyakan permasalahan sekaligus belajar mengenai ilmu nasab adakalah suatu acara al habib sengaja membawa air untuk cucian tangan guna melayani orang-orang tua/wulati pada kesempatan yang sesaat itu alhabib menggunakan untuk berkenalan sekaligus mengenal orang lain.

Al habib belajar kepada banyak orang untuk memahami ilmu nasab ini,jadi al habib membutuhkan waktu puluhan tahun untuk duduk mengurusi permasalahan nasab ini tidak dengan tiba-tiba atau dengan kepentingan tertentu untuk mencari kedudukan di mata manusia,duduknya al habib di ilmu nasab ini jauh dari kepentingan pribadi ataupun golongan. Ada suatu kejadian yang membuat Al habib terpacu untuk belajar ilmu nasab ini, pada suatu ketika sewaktu alhabib baru mau mengenal /belajar silsilah alhabib sempat mendapat sindiran yang cukup membuat alhabib termotifasi untuk membuktikan ketidak benaran ucapan orang-orang.

Pada waktu itu ada ucapan yang mengatakan bahwa “Mana mungkin orang dari pedalaman bisa mengerti nasab”. Ternyata perkataan ini terbantahkan oleh alhabib.

Al habib beserta keluarga hijrah ke Jakarta pada tahun 1981 di Jl. Cililitan Kecil Jakarta Timur dan pada tahun 1989 alhabib memegang kendali dalam menjaga kemurnian / kelestarian ilmu nasab ini hingga sampai akhir hayatnya. Jadi al habib mematahkan perkataan orang yang meragukan kemampuan al habib ternyata orang yang berasal dari daerahpun mampu memegang kendali ilmu nasab ini setelah belajar puluhan tahun dengan berkeliling kemana-mana. Al habib sempat berkeliling Indonesia bahkan semenanjung Melayu ,alhabib juga punya hubungan yang baik dengan beberapa orang ahli silsilah waktu itu. Diantaranya Al Isa bin Muhammad bin Al Qatmyr Al-Kaff, Al Habib Ibrahim bin Muhammad Al Kaff Singapura dan beberapa ahli silsilah yang lainnya. Al habib juga sempat mempersiapkan beberapa orang kader untuk mengantisipasi ke masa depan. Diantara kader tersebut adalah Al Habib Zainal Abidin bin Segaf Assegaf yang waktu itu masih berumur 30 tahun.

Sebulan sebelum meninggal alfaqier sempat bertemu al habib dirumahnya, alhabib berpesan “ya Waladi jangan engkau ikuti orang-orang yang berpegang diluar salaf kita, ikuti salaf-salaf kita suatu saat nanti mereka yang keluar dari salaf kita akan hancur sehancurnya” sembari beliau mengantar alfaqier ke luar. Rupanya itulah pertemuan terakhir dan pada tanggal 6 Februari 1995 Al habib meninggal dunia dan dikuburkan di Makam AlHabib Ahmad bin Alwi Al Umar AlHaddad (Habib Kuncung, dibelakang Kali Bata Mall, Jakarta ).

Selamat jalan habib curahan do’a menghantarmu di tempat istirahat yang tenang di dalam tamannya sorga

Semoga ALLAH menempatkanmu pada tempat yang terindah yang belum pernah ditempati manusia lain dimasamu.

Aaamiiin ya Robbal Alamiin

AL HABIB ZEIN BIN IBRAHIM BIN SMITH.

AL HABIB ZEIN BIN IBRAHIM BIN SMITH
Habib Zain lahir di ibukota Jakarta pada 1357/1936. Ayahnya, Habib Ibrahim adalah ulama besar di bumi Betawi kala itu. Selain keluarga, lingkungan tempat di mana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius.

Guru-gurunya ialah Habib Muhammad bin Salim bin Hafiz, Habib Umar bin Alwi al-Kaf, al-Allamah al-Sheikh Mahfuz bin Salim, Sheikh Salim Said Bukayyir Bagistan, Habib Salim bin Alwi al-Khird, Habib Ja’far bin Ahmad al-Aydrus, Habib Muhammad al-Haddar (mertuanya) dan ramai lagi. Selanjutnya, pada usia empat belas tahun (1950), ayahnya memberangkatkan habib Zain ke Hadramaut, tepatnya kota Tarim. Di bumi awliya’ itu Habib Zain tinggal di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan.


Menyadari mahalnya waktu untuk disia-siakan, Habib Zain berguru kepada sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah lainnya, hingga pada akhirnya mengkhususkan belajar di Ribath Tarim. Di pesantren ini nampaknya Habib Zain merasa cocok dengan keinginannya. Di sana ia memperdalam ilmu agama, antara lain mengaji kitab ringkasan ( mukhtashar ) dalam bidang fikih kepada Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz. Dibawah asuhan Habib Muhammad pula, Habib Zain berhasil menghapalkan kitab fikih buah karya Imam Ibn Ruslan, “Zubad”, dan “Al-Irsyad” karya Asy-Syarraf Ibn al-Muqri. Tak cukup di situ, Habib Zain belajar kitab “Al-Minhaj” yang disusun oleh Habib Muhammad sendiri, menghapal bait-bait (nazham) “Hadiyyahas-Shadiq” karya Habib Abdullah bin Husain bin Thahir dan lainnya.

Dalam penyampaiannya, di Tarim beliau sempat berguru kepada sejumlah ulama besar. Seperti Habib Umar bin Alwi al-Kaf, Syekh Salim Sa’id Bukhayyir Bagitsan, Habib Salim bin Alwi al-Khird, Syekh Fadhl bin Muhammad Bafadhl, Habib Abdurrahman bin Hamid as-Sirri, Habib Ja’far bin Ahmad al-Aydrus, Habib Ibrahim bin Umar bin Agil dan Habib Abu Bakar al-Atthas bin Abdullah Al-Habsyi. Selain menimba ilmu, di sana Habib Zain banyak mendatangi majlis para ulama demi mendapat ijazah, semisal Habib Muhammad bin Hadi as-Seggaf, Habib Ahmad bin Musa al-Habsyi, Habib Alwi bin Abbas al-Maliki al-Makki, Habib Umar bin Ahmad bin Sumaith, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha al-Haddad, Habib Abdul Qadir bin Ahmad as-Seggaf dan Habib Muhammad bin Ahmad as-Syatiri. Demikianlah. Melihat begitu banyaknya ulama yang didatangi, dapat di simpulkan, betapa besar semangat Habib Zain dalam rangka merengkuh ilmu pengetahuan agama, apalagi melihat lama waktu beliau tinggal di sana, yaitu kurang lebih delapan tahun.

Di rasa ilmu yang didapatkan cukup, salah seorang gurunya bernama Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz menyarankannya pindah ke kota Baidhah, salah satu wilayah pelosok bagian negeri Yaman, utuk mengajar di ribath di sana sekaligus berdakwah. Ini dilakukan menyusul permohonan mufti Baidhah, Habib Muhammad bin Abdullah al-Haddar. Dalam perjalanan ke sana, Habib Zain singgah dulu di kediaman seorang teman dekatnya di wilayah Aden, Habib Salim bin Abdullah as-Syatiri, yang saat itu menjadi khatib dan imam di daerah Khaur Maksar. Di sana Habib Zain tinggal beberapa saat.

Selanjutnya, Habib Zain melanjutkan perjalanannya. Maka dapat ditebak, sesampai di Baidhah, Habib Zain pun mendapat sambutan hangat dari sang tuan rumah, Habib Muhammad al-Haddar. Di sanalah untuk pertama kali ia mengamalkan ilmunya lewat mengajar.

Habib Zain menetap lebih dari 20 tahun di Rubath Baidha’ menjadi khadam ilmu kepada para penuntutnya. Beliau juga menjadi mufti dalam Mazhab Syafi’e. Setelah itu beliau berpindah ke negeri Hijaz.

Selama 12 tahun Habib Zain telah bersama-sama dengan Habib Salim al-Syatiri menguruskan Rubath di Madinah. Setelah itu Habib Salim telah berpindah ke Tarim, Hadhramaut untuk menguruskan Rubath Tarim.

Habib Zain di Madinah diterima ramai. Keterampilan dan wibawanya terserlah. Muridnya banyak dan terus bertambah. Dalam kesibukan mengajar dan usianya yang juga semakin meningkat, keinginan untuk terus menuntut ilmu tidak pernah pudar.

Beliau mendalami ilmu Usul daripada Sheikh Zaydan al-Syanqiti al-Maliki. Habib Zain terus menyibukkan diri menuntut dengan Al-Allamah Ahmaddu bin Muhammad Hamid al-Hasani al-Syanqiti dalam ilmu bahasa dan Usuluddin.

Habib Zain seorang yang tinggi kurus. Lidahnya basah, tidak henti berzikrullah. Beliau sentiasa menghidupkan malamnya. Di waktu pagi Habib Zain keluar bersolat Subuh di Masjid Nabawi. Beliau beriktikaf di Masjid Nabawi sehingga matahari terbit, setelah itu beliau menuju ke Rubath untuk mengajar. Majlis Rauhah setelah asar sehingga maghrib.

MENGENAL LEBIH DEKAT AL- `ALAMAH AD-DA`I ILALLAH AL-HABIB UMAR BIN MUHAMMAD BIN HAFIDZ BIN SYEIKH AB


Sorot matanya tajam, raut mukanya tampak bercahaya, bibirnya selalu tersenyum mengembang, suaranya lantang, badannya yang tegak dengan dibalut jubah dan sorban yang dikenakannya semakin menambah kewibawaannya.Itulah ciri fisik Habib Umar bin Hafidz yang khas. Pribadinya santun dan rendah hati, beliau memiliki akhlak yang terpuji dan memberikan contoh yang diajarkan Rasulullah SAW dengan perilaku yang nyata pada dirinya. Beliau adalah berkah bagi kaum muslimin saat ini, beliau adalah hadiah dari Allah SWT untuk kaum muslimin khususnya di Indonesia.

Habib umar adalah seorang orator ulung, da`i yang ikhlas, setiap khutbah dan tausiah yang beliau sampaikan membuat decak kagum bagi orang yang menyimaknya. Tidak berlebihan kalau beliau dijuluki “Singa Podium”. Bagaimana tidak, setiap orang yang mendengarkan ceramahnya, sekeras apapun hatinya pasti akan menitikkan air mata, walaupun orang yang menyimaknya tidak mengerti bahasa arab. Selain da`i, Habib Umar juga seorang yang mumpuni dalam ilmu hadits, beliau banyak hafal hadits berikut matan dan sanadnya dari dirinya hingga Rasulullah SAW. Selain itu beliau juga ahli dalam ilmu tafsir Al-Qur`an, ilmu Fikih serta ushulnya dan berbagai disiplin keilmuan lainnya.

Habib Umar tinggal di Tarim, Hadramaut, Yaman Selatan. Selain aktif berdakwah diberbagai belahan dunia, beliau juga mengawasi perkembangan Pondok Pesantren “DARUL MUSTAFA” dan berbagai sekolah lain yang telah dibangun dibawah manajemen beliau. Darul Mustafa kini telah memiliki lebih dari 30 cabang yang tersebar diberbagi tempat di Hadramaut, Yaman Utara, Emirat, Hijaz, Indonesia, Malaysia.
Selain melakukan kaderisasi, Habib umar juga memiliki karya yang telah dibukukan, diantaranya: Is`af At-Thalibi, Ridha Al-Khalaq bi bayan Makarimal Akhlaq, Taujihat At-Thullab, Syarah Mandzumah, Sanad Al-`Ulwi, Adz-Dzakirah Al-Musyarrafah dan masih banyak lagi karya-karya beliau yang lainnya. karya-karya beliau ada juga yang telah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia dan karya beliau yang paling monumental adalah “Dhiyaullami` bidzikri Mauliduhu Asy-Syafi`” yang berisi bait-bait syair pujian terhadap Rasululllah SAW yang di Indonesia lebih dikenal dengan Maulid Habib Umar bin Hafidz. Saat ini beliau masih memegang peran aktif dalam penyebaran dakwah islam, sedemikian aktifnya sehingga beliau meluangkan hampir sepanjang tahunnya untuk mengunjungi berbagai negara diseluruh dunia demi melakukan kegiatan-kegiatan mulia. Tidak ketinggalan pula di Indonesia. Tahun 1994 M adalah awal kedatangan beliau ke Indonesia. Sebelumnya Al Maghfurlah Al-Habib Anis bin Alwi Al Habsy Solo mengeluh kepada Al Maghfurlah Al-Imam Al-`Arif billah Al-Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assegaf, Jeddah,tentang keadaan para Alawiyyin di Indonesia yang mulai jauh dan lupa akan nilai-nilai ajaran para leluhurnya. Lalu Al-Habib Abdul Qadir pun mengutus Habib Umar bin Hafidz untuk mengingatkan dan menggugah Ghirah para Alawiyyin di Indonesia. Kini setiap awal bulan Muharram merupakan jadwal beliau untuk dakwah ke Indonesia guna memberikan nasehat, ilmu serta mengingatkan kita akan Thariqah Alawiyyin. Semoga Allah SWT menjaga kesehatan beliau, memanjangkan usia beliau, memudahkan segala urusan beliau, menjadikan keturunannya dan para anak muridnya sebagai penerus dakwah beliau dan menggolongkan kita semua termasuk sebagai orang-orang yang suka berkumpul bersama kaum Shalihin seperti beliau…Amin…amin..amiin ya Rabbal `alamin.

SAYYID ALAWI BIN ABBAS AL MALIKI.

Beliau adalah Sayyid ‘Alawi bin ‘Abbas bin ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abbas bin Muhammad al-Maliki al-Idrisi al-Hasani. Beliau adalah keturunan Idris al-Azhar bin Idris al-Akbar bin ‘Abdullah al-Kamil bin Hasan al-Mutsanna bin Hasan, putera kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah al-Zahra’ binti Rasulullah SAW.

Dilahirkan di rumah al-Maliki berhampiran Bab as-Salam pada tahun 1328H. menghafal al-Quran ketika berusia 10 tahun dan menjadi imam sholat tarawikh di Masjidilharam. Belajar di Madrasah al-Falah dan tamat pada tahun 1346H. Kemudian menjadi tenaga pengajar di madrasah tersebut. Mengajar di halaqahnya di Masjidilharam berdekatan dengan Bab as-Salam selama 40 tahun. Juga dilantik menjadi jurunikah di Mekah. Beliau wafat pada tanggal 25 Shafar 1391H dipangkuan pelayan (khadam) beliau, iaitu Tuan Guru Haji Mas’ud Telok Intan

Antara guru guru beliau adalah :

Ayahndanya sendiri Sayyid ‘Abbas bin ‘Abdul Aziz al-Maliki;

al-Muhaddits al-Haramain Syaikh Umar Hamdan al-Mahrisi;

Syaikh Habibullah asy-Syanqiti;

Syaikh Muhammad ‘Ali bin Hussin al-Maliki;

Syaikh Jamal al-Maliki;

Syaikh al-Qurra’ Syaikh at-Tiji;

Syaikh ‘Abdullah Hamaduh;

Syaikh Hasaan as-Said as-Sanuri;

Syaikh amin Suwid ad-Dimasyqi;

Syaikh Mahmud al’Attor ad-Dimasyqi;

Syaikh Isa Rawwas;

Syaikh Salim Syafie;

Syaikh Ahmad Nadhirin;

Syaikh Muhammad al-‘Arabi at-Tabbani;

Syaikh Yahya Aman;

Syaikh Muhammad Khidir asy-Syanqiti;

Syaikh Muhammad al-Mujtaba asy-Syanqiti;

Syaikh Umar BaJunaid;

Syaikh ‘Abdul Sattar ad-Dehlawi

Selain itu beliau juga meriwayatkan ilmu, ijazah dan sanad daripada ulama keluarga Ba’Alawi (ahlul bait yang bernasabkan kepada ‘Alawi bin Ubaidullah bin Ahmad bin Isa al-Muhajir bin Muhammad bin ‘Ali al-Uraidhi bin Ja’far ash-Shodiq bin Muhammad al-Baqir bin ‘Ali Zainal ‘Abidin bin Hussin al-Sibth putera kepada Sayyidina ‘Ali bin Abi Thalib dan Sayyidah Fathimah al-Zahra’ binti Rasulullah SAW, antaranya:

al-Habib ‘Aydrus bin Salim al-Bar;
al-Habib Abu Bakar al-Bar;
al-Habib Abdur Rahman bin Ubaidullah as-Seggaf ;
al-Habib Alwi bin Thohir al-Haddad;
al-Habib Musthofa al-Muhdhor;
al-Habib Muhammad bin Hadi as-Seggaf;
al-Habib Umar bin Sumaith;
al-Habib Salim bin Hafidz;
al-Habib Ali bin ‘Ali al-Habsyi;
al-Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad;
al-Habib Ali bin ‘Abdur Rahman al-Habsyi dan
al-Habib Abu Bakar as-Seggaf.

Beliau juga meriwayatkan ilmu, sanad dan ijazah daripada para ulama terkenal di zamannya, seperti: al-Imam al-Muhaddits Muhammad ‘Abdul Hayy al-Kittani; asy-Syarif ‘Abdul Hafiz al-Fasi; Syaikh Muhammad Zahid al-Kauthari; Syaikh Yusuf bin Ismail an-Nabhani; Syaikh Muhammad Bakhit al-Muti’i; Syaikh Salamah al-‘Azzami; asy-Syarif Ahmad bin Ma’mun al-Balghiti; Syaikh al-Muhaddits Muhammad Ilyas al-Kandahlawi; Syaikh al-Muarrikh al-Yamani Muhammad Zabarah, pengarang Nail al-Wator; al-Imam al-Muhaddits al-Musnid Muhammad ‘Abdul Baqi al-Ayyubi al-Madani; Syaikh Abu al-Khair al-Maidani ad-Dimasyqi; Syaikh al-Mursyid Muhammad Abu al-Nasr Khalaf al-Hims dan al-Imam al-Mursyid asy-Syarif Ahmad as-Sanusi al-Mujahid.

Kitab karangan beliau: al-‘Iqd al-Munazzam fi Aqsam al-Wahyi al-Mu’azzam; al-Manhal al-Lathir fi ahkam al-Ahadits ad-Dhoif; al-Ibanah al-Ahkam al-Kahanah; Risalah fi Ibtol Nisbah al-Qaul bi Waihdah al-Wujud li ‘Aimmah at-Tasawwuf; Risalah fi al-Ilham; Ibanatul Ahkam Syarh Bulughul Maram; Risalah al-Ahkam at-Taswir; al-Mawaiz ad-Diniyyah [himpunan ceramah beliau diradoi Saudi pada setiap pagi Jum’at]; Nailul Maram Ta’liq ‘ala ‘Umdah al-Ahkam; Fath al-Qarib al-Mujib ‘ala Tahzib al-Targhrib wat Tarhib, Diwan Syairnya. Manakala ananda beliau Sayyid Muhmmad bin ‘Alawi telah mengumpulkan sanad-sanad beliau dalam kitab al-‘Uqud al-Lu’luiyyah bi Asanid al-‘Alawiyyah; dan fatwa-fatwa beliau di dalam kitab Majmu al-Fatawa wa al-Rasail.

Adapun murid beliau, tidak terhingga banyaknya. Ramai di kalangan ulama Nusantara yang belajar kepada beliau di Mekah. Oleh kerana itulah nama beliau tidak asing lagi di Nusantara.

Pujian ulama kepadanya:
Kata Imam al-Akbar Dr. ‘Abdul Halim Mahmud, Syaikhul al-Azhar: “…… Sesungguhnya Allah telah menyinari wajahnya di atas kesungguhannya yang kuat terhadap sunnah Rasulullah SAW dalam memikul, memberi kefahaman, pengajaran, pentarbiyahan dan sebagainya jalan menuju Allah….”
Syaikh ‘Abdul ‘Aziz bin Baz juga pernah memuji Sayyid ‘Alawi sebagaimana diceritakan oleh Syaikh Ahmad al-Haribi (Pemantau Majlis Pengajian di Masjidil Haram): “…. Pada suatu hari Syaikh ‘Bdul Aziz bin Baz berhenti di dalam majlis pengajian Sayyid ‘Alawi al-Maliki dan mendengar pengajaran Sayiid ‘alawi beberapa ketika. Apabila dia berpaling, Syaikh Ahmad al-Haribi bertanya pendapat Syaikh ‘Abdul ‘Aziz Bin Baz tentang pengajaran Sayyid ‘Alawi al-Maliki dan dia berkata: MasyaAllah! MasyaAllah. (menunjukkan ta’jub terhadap ilmu Sayyid ‘Alawi dan pengi’tirafan keatas ketinggian ilmunya)

Syaikh Muhmmad Said al-Yamani pernah berkata kepada ayahnya Sayyid ‘Abbas al-Maliki: "Sesungguhnya anakmu ‘Alawi akan menjadi perhiasan Masjidilharam."
Syaikh Umar Khayyath berkata: Ketika kami berada di dewan rumah Syaikh ‘Ali ibn Hussin al-Maliki di dalam satu majlis, Sayyid ‘Alawi datang, lalau Sayyid ‘Ali al-Maliki berkata: Sesungguhnya anaku ini, ‘Alawi, merupakan orang yang mendapat anugerah dan ilham, di dalam percakapannya penuh dengan keindahan dan keelokkan, dia juga merupakan orang yang dikasihi ramai, semua orang suka mendengar pengajarannya dan aku adalah orang yang pertama suka mendengar kalamnya.

Setelah kewafatan beliau pada malam Rabu 25 Shafar 1391, tempat beliau diganti oleh anaknya iaitu Sayyid Muhammad, yang kemudiannya muncul sebagai ulama Mekah yang harum namanya diseluruh pelusuk dunia.Selepas kewafatan Sayyid Alawi, anaknya, Sayyid Muhammad telah menggantikan tempat beliau dalam meneruskan usaha dakwah & warisan ulama, di mana akhirnya anaknya ini menjadi ulama terkenal dan dikasihi murid-muridnya serta umat di pelusuk dunia.

AL HABIB ABDULLAH BIN ABDUL QADIR BIN AHMAD BILFAQIH

Habib Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih al-’Alawi adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad BalFaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur.

Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah. Pesantren ini telah melahirkan ramai ulama yang kemudiannya bertebaran di segenap pelusuk Nusantara. Sebahagiannya telah menurut jejak langkah guru mereka dengan membuka pesantren-pesantren demi menyiarkan dakwah dan ilmu, antaranya ialah Habib Ahmad al-Habsyi (PP ar-Riyadh, Palembang), Habib Muhammad Ba’Abud (PP Darun Nasyi-in, Lawang), Kiyai Haji ‘Alawi Muhammad (PP at-Taroqy, Sampang, Madura) dan ramai lagi.

Beliau RA sosok ulama yang karismatik, penuh disiplin dan tegas dalam hukum serta norma agama.beliau di lahirkan tepat tgl 12 robiul awal 1355 H.Dengan semangat belajar yang menggelora dan bimbingan sang ayah,beliau mampu mengusai 40 fax ilmu agama. mulai tingkat dasar sampai tingkat tinggi semangat belajar tidak pernah pudar.Beliau RA benar-benar sebagai pigur penuntut ilmu yang tak mengenal lelah dan penuh dedikasi.Dikisahkan oleh keluarga beliau RA dan para santri ayandanya, bahwa dimasa mudanya beliau RA sering menderita sakit sampai mengeluarkan darah karena tekunnya duduk menelaah kitab-kitab yang beliau pelajari.

Habib ‘Abdullah bin ‘Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih adalah ulama yang masyhur alim dalam ilmu hadits. Beliau menggantikan ayahandanya Habib ‘Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih sebagai penerus mengasuh dan memimpin pesantren yang diasaskan ayahandanya tersebut pada 12 Rabi`ul Awwal 1364 / 12 Februari 1945 di Kota Malang, Jawa Timur. Pesantren yang terkenal dengan nama Pondok Pesantren Darul Hadits al-Faqihiyyah Ahlus Sunnah wal Jamaah.Setelah kemangkatan ayanndanya Habib Abdul qodir bi faqih sebagai putra tunggal beliau RA otomatis menggantikan posisi ayahandanya melanjutkan perjuangan dalam bidang pengajaran dan pendidikan di pesantren maupunbidang da’wah islamiyyah. Begitupun dengan majlis ta’lim yang pernah di selenggarakan oleh ayahandanya, beliau RA meneruskan kegiatan tersebut, majlis ta’lim yang di maksud adalah majlis yang bersifat khusus ( thoriqot) yang di selenggarakan minggu pertama dan minggu ketiga di pesantren darul hadist.Di samping itu jugabeliau RA da’wah hingga ke plosok daerah di indonesia dan di berbagai negara. Setiap akhir ceramahnya beliau RA selalu mengajak para jamaah untuk mengingat Alloh Swt dan Rosululloh SAW sambil meneteskan airmata, mengingat lumuran dosa meresapi bahwa hidup ini hanyalah bersifat sementara dan pada saatnya nanti kita akan mati serta di mintai pertanggung jawabannya oleh Sang Pencipta.

Kepada santri-santri dan putra putri nya Beliau RA Memberikan perhatian yang besar,setiap malam sebelum sholat tahajut beliau RA selalu keliling P0ndok pesantren untuk melihat santri-santrinya yang tertidur jika ada kain yang tersingkap beliau lantas menuntupinya, dan jika beliau mengajar dan tidak tampak putranya di majlis maka beliu menyuruh santri memanggil putra-putranya tersebut untuk ikut serta ta’lim di majlis Ayahandanya tersebut. Beliau RA selalu mengontrol putra-putri,santri serta murid thoriqohnya dengan jalan zhohir maupun batin karena beliu adalah termasuk orang MUKASYIF yakni orang yang dapat melihat hal-hal yang ghoib dengan tahadutsan bin ni’mah beliu RA Pernah mengatakan bahwa Alloh SWT memberikan karunia KASYAF Kepadaku sejak aku masih muda.

Kecintaan beliu kepada Baginda Rosululloh SAW sangat dalam, pada saat beliau menyebut baginda Rosululloh SAW selalu diiringi dengan mengucurkan air mata, hal ini merupakan bukti kecintaan yang dalam dan tulus dari Beliau RA. Begitu pula pada acara majlis ta’lim beliau RA mengajak para jama’ah untuk bertawashul dan bersolawat kepada baginda Rosululoh SAW dengan mengucurkan air mata, tentu saja ini bukan maksud untuk dibuat-buat ( seperti banyak yang dituduhkan sebagian kelompok) bahwa perbutan tersebut menyerupai agama lain atau aliran sesat, padahal itu emua adalah merupakan bukti cinta yang mendalam kepada Rosululloh Saw karena kesucian dan keseriusan cinta maka akan bercucurlah air mata.

Beliau RA adalah seorang ulama besar dan waliyulloh suatu ketika beliau didatangi oleh Nabi Khidir AS sebagaimana yang beliau tuturkan , nabi Khidir memberi salam “SELAMAT SEJAHTERA WAHAI WALI QUTUB….PUTRA DARI WALI QUTUB…..DAN BAPAK DARI WALI QUTUB....” dan ini juga adalah merupakan suatu isyaroh bahwa suatu hari kelak anak-anak beliau yang masih hidup dan sekarang menjadi pengasuh Pon-pes Darul Hadist Al faqihiyyah yaitu Habib Muhammad bil Faqih, habib Abdul qodir bil faqih dan Habib Abdurrohman Bil faqih akan menjadi wali-wali qutub. Sifat dan karekter mereka dalam berda’wah dan mengisi majlis ta’lim sama seperti Ayahandanya tegas dan disiplin, ini yang saya rasakan waktu saya belajar di pesantren Darul Hadist al faqihiyyah tahun 1998 kalau anak-anak beliau memberikan ceramah atau mengajar di kelas semua santri akan tertunduk seakan-akan sedang berhadapan dengan Ayanhanda Beliau Al hafid Habib Abdulloh Bil Faqih.

Bersama ayahanda tercinta Habib Abdul Qadir bin Ahmad Bilfaqih

Pada usia tujuh tahun beliau telah hafal Al Qur`Anul Karim, kemudian pada usia muda bealiau telah menerima tugas untuk memegang tampuk pimpinan (direktur) lembaga Darul Hadits Al Faqihhiyyah, pada tahun 1960 beliau menerima gelar doctor honoris causa dalam bidang Ilmu Hadits Dari Al-Azhar Cairo Mesir.

Selain itu beliau pernah menajabat sebagai dosen IKIP , kemudian pada tahun 1960 menjabat dosen Ilmu Tafsir Al-Qur`An Di Fakultas Ilmu Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, selain itu juga diangkat sebaagai penasihat Menteri Penghubung ` Alim Ulama , juga sebagai penasihat Ahli Menteri Kesra RI dalam bidang fatwa agama, sedang dalam idang Thoriqoh beliau membai`ah dan melanjutkan jabatan mursyid Thoriqoh Al` Alawiyyah Al –Mu`Tabaroh sebagai mana ayahandanya.

Sejak semula hingga akhir hayat beliau selalu penuh semangat dalam dakwah islamiyyah di didalam maupun di luar negeri, forum mimbar lainnya seperti media cetak, radio pusat maupun regional dan lain-lain.

BEBERAPA KEUTAMAAN ALUSTADZUL IMAM ALHAFIDS AL HABIB ABDULLAH BIN ABDUL QADIR BILFAQIH :

* Beliau adalah seseorang yang tidak mengenal lelah dalam menyebar luaskan sunnah—sunnah Nabi Besar Muhammad SAW

* Beliau adalah seseorang yang tegas dalam memegang prinsip ajaran agama yang berazaskan Al-Kitab Dan Sunnah-Sunnah

* Sama seperti ayahandanya belaiau tidak mau melakukan hal-hal yang makruh

* Beliau adalah seorang ahli sholawat dan beliau mewajibkan setiap harinya tidak kurang dari 10.000 kali serta mengkhatamakan Al-Qur`An setiap hari

* Dapat dikatakan beliau adalah seorang muballigh sejati


Isyarah akan berpulangnya Al hafidz Al alamah Al habib Abdulloh Bilfaqih sebagaimana penuturan putra beliau, Bahwa Ayahandanya Ra bermimpi di emban oleh Baginda Rosululloh SAW dan ayah akan pergi duhulu bersama ibumu (almarhumah).Dan di tuturkan juga oleh seseorang yang dianggap saudara sendiri sekaligus putra guru Beliau yakni Al habibul Jalil Dzil Majdil Atsil seggaf bin Al imam Abi Bakar bin Muhammad Assegaf bahwa tiga hari sebelum wafat beliau RA sempat menghubunginya dan berpesan agar hadir pada hari Ahad tanggal 30 november 1991 ( hari pemakaman Beliau RA) dan sempat pula beliua RA menitipkan putra-putrinya. pukul 11.00 beliau Al hafidz memanggil putranya Habib Muhammad bilFaqih dan putrinya sambil berkata” Do’akan ayahmu panjang umur….” kurang lebih pukul 13.15 tiba-tiba beliua berucap ” ya Alloh……menghadaplah beliau RA keharibaan Alloh Swt, inilah bukti kuasa dan kehendak Alloh SWT.

Berpulanglah Maha Guru Kami tepat tanggal 30 november 1991, ribuan orang ikut mengiringi belaiu Ra dimaqomkan di samping maqom Ayahandanya Al habr Al a’lamah Habib Abdul Qodir Bil faqih di TPU kasin Malang. Ya Alloh Beri kami keberkahan dari Beliau karena rasa cinta hamba kepada beliau Ra. Amiiin

AL HABIB ALI BIN AHMAD BIN ZEIN AIDID .

Disebelah utara Jakarta terdapat gugusan kepulauan yang terdiri dari 108 pulau kecil, disebut Kepulauan Seribu. Satu diantaranya adalah Pulau Panggang, sekitar 60 km disebelah utara kota Jakarta. Pulau seluas 0,9 hektare itu bisa dicapai dalam waktu kurang lebih tiga jam dengan perahu motor dari pelabuhan Muara Angke, Jakarta Utara.

Disanalah Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid, yang juga dikenal sebagai Wali keramat Pulang Panggang. Ia adalah ulama dan muballigh asal Hadramaut yang pertama kali menyebarkan Islam di Pulang Panggang dan sekitarnya. Pada abad ke-18 ia bertandang ke Jawa untuk berda’wah bersama dengan empat kawannya :

1. Al-Habib Abdullah bin Muchsin Al-athas, Kramat Empang Bogor.

2. Al-Habib Muhammad bin Ahmad Al-Muhdor, Bondowoso, Surabaya.

3. Al-Habib Muhammad bin Idrus Al-Habsyi, Ampel, Surabaya.

4. Al-Habib Salim Al-Athas, Malaysia.

Al-Maghfurlah Habib Ali ke Batavia, sementara keempat kawannya masing-masing menyebar ke kota-kota dan negeri diatas. Al-Maghfurlah berda’wah dari Pulau Seribu sampai dengan Wilayah Pulau Sumatera yaitu Palembang.

Di Batavia , Almaghfurlah Habib Ali bermukim di Kebon Jeruk dan menikah dengan Syarifah setempat, Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi. Dari Perkawinannya itu dikaruniai seorang putera bernama Hasyim bin Ali Aidid.

Suatu hari Almaghfurlah mendengar kabar, disebelah utara Jakarta ada sebuah pulau yang rawan perampokan dan jauh dari da’wah Islam, yaitu Pulau Panggang. Beberapa waktu kemudian ia memutuskan untuk mengunjungi pulau tersebut. Ketika Al-Maghfurlah sampai di Pasar Ikan hendak menyeberang ternyata tidak ada perahu. Maka ia pun bertafakur dan berdo’a kepada Allah SWT, tak lama kemudian muncullah kurang lebih seribu ekor ikan lumba-lumba menghampirinya. Ia lalu menggelar sajadah di atas punggung lumba-lumba tersebut, kemudian ikan lumba-lumba mengiring beliau menuju Pulang Panggang. Demikianlah salah satu karomah Almaghfurlah Habib Ali, menurut cerita dari Al-Habib Abdullah bin Muhsin Al-athas kepada salah satu muridnya Al-Habib Alwi bin Muhammad bin Thahir Alhaddad bahwa setiap Habib Ali hendak berda’wah beliau berdiri ditepi pantai Pasar Ikan dengan mengangkat tangan sambil bermunajat kepada Allah SWT, maka datang ikan lumba-lumba kurang lebih seribu ekor mengiring beliau disamping kanan, kiri, depan, belakang beliau dan mengantar sampai ketempat tujuan untuk berda’wah.

Sosoknya sangat sederhana, cinta kebersamaan, mencintai fakir miskin dan anak yatim. Bisa dimaklumi jika da’wahnya mudah diterima oleh warga Pulau Panggang dan sekitarnya. Ia mengajar dan berda’wah sampai kepelosok pulau. Bahkan sampai ke Palembang, Singapura dan Malaka.

Karomah lainnya, suatu malam, usai berda’wah di Keramat Luar Batang, Penjaringan, Jakarta Utara, ia pulang ke Pulau Panggang. Di tengah laut, perahunya dihadang gerombolan perompak. Tapi, dengan tenang Almaghfurlah Habib Ali melemparkan sepotong kayu kecil ke tengah laut. Ajaib, kayu itu berubah menjadi karang, dan perahu-perahu perompak itu tersangkut di karang. Maka, berkat pertolongan Allah SWT itu, Almaghfurlah Habib Ali dan rombongan selamat sampai di rumahnya di Pulau Panggang.

Suatu hari, warga Pulau Panggang diangkut ke Batavia dengan sebuah kapal Belanda, konon untuk dieksekusi. Beberapa perahu kecil berisi penduduk ditarik dengan rantai besi ke arah kapal Belanda yang membuang sauh jauh dari pantai. Mendengar kabar itu, Almaghfurlah Habib Ali menangis, lantas berdo’a agar seluruh penduduk Pulau Panggang diselamatkan . Do’anya dikabulkan oleh Allah SWT. Rantai besi yang digunakan untuk menarik perahu berisi penduduk itu tiba-tiba putus, sehingga Belanda urung membawa penduduk ke Batavia.

Suatu malam, ia mendapat isyarat sebentar lagi ia akan wafat. Ketika itu sebenarnya ia ingin ke Palembang, namun dibatalkan. Dan kepada santrinya ia menyatakan, “ saya tidak jadi ke Palembang.” Benar apa yang ia katakan, keesokan harinya, 20 Zulkaidah 1312 H./1892 M. ia wafat, dan dimakamkan di sebuah kawasan di ujung timur Pulau Panggang.

Sesungguhnya, Jenazah almarhum akan dibawa ke Batavia untuk diketemukan Istri dan anaknya serta dimakamkan disana. Namun, ketika jenazah sudah berada di atas perahu yang sudah berlayar beberapa saat, tiba-tiba tiang layar perahu patah dan perahu terbawa arus kembali ke Pulau Panggang. Hal ini terjadi berturut-turut sampai tiga kali. Akhirnya, penduduk kampung memaknai peristiwa itu sebagai kehendak almarhum di makamkan di Pulau tersebut. Keesokan harinya setelah Almaghfurlah Habib Ali dimakamkan, beberapa orang dari penduduk Pulau Panggang memberi khabar kepada istrinya Syarifah Zahroh binti Syarif Muchsin bin Ja’far Al-Habsyi, istrinya menjawab “ Yah, saya sudah tahu, Habib Ali tadi telah datang memberi kabar kepada saya tentang meninggalnya dia dan dimakamkan di Pulau Panggang “.

Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid adalah seorang ulama yang langka, yang berani merintis da’wah di kawasan terpencil, dan berhasil. Demikianlah sekilas dari riwayat Al-Habib Ali bin Ahmad bin Zein Aidid.

Mengendalikan Amarah.

Assalamualaikum Wr.Wb

"Sesungguhnyaa marah itu bara api yang dapat membakar lambung anak adam. Ingatlah bahwa sebaik¬baik orang adalah orang yang melambatkan (menahan) amarah dan mempercepat keridhaan, dan sejelek¬-jelek orang adalah orang yang mempercepat amarah dan dan melambatkan ridha" (HR. Ahmad dari Abu Sa' id al-Khudriy)

Ketika emosi dan amarah memuncak maka segala sifat buruk yang ada dalam diri kita akan sulit dikendalikan dan rasa malu pun kadang akan hilang berganti dengan segala sifat buruk demi melampiaskan kemarahannya pada benda, binatang, orang lain, dll di sekitarnya.

Banyak orang bilang kalau menyimpan emosi secara terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat pecah sewaktu-waktu dan bisa melakukan hal-hal yang lebih parah dari orang yang rutin emosian. Oleh sebab itu sebaiknya bila ada rasa marah atau emosi sebaiknya segera dihilangkan atau disalurkan pada hal-hal yang tidak melanggar hukum dan tidak merugikan manusia lain.

Beberapa ciri-ciri orang yang tidak mampu mengandalikan emosinya :

1. Berkata keras dan kasar pada orang lain.
2. Marah dengan merusak atau melempar barang-barang di sekitarnya.
3. Ringan tangan pada orang lain di sekitarnya.
4. Melakukan tindak kriminal / tindak kejahatan.
5. Melarikan diri dengan narkoba, minuman keras, pergaulan bebas, dsb.
6. Menangis dan larut dalam kekesalan yang mendalam.
7. Dendam dan merencanakan rencana jahat pada orang lain. dsb...



Dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa ada seorang laki-laki berkata kepada Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam : “Berilah aku wasiat”. Beliau menjawab, “Engkau jangan marah!” Orang itu mengulangi permintaannya berulang-ulang, kemudian Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: “Engkau jangan marah!” [HR al-Bukhâri]



BAGAIMANA MENGOBATI AMARAH JIKA TELAH BERGEJOLAK?Orang yang marah hendaklah melakukan hal-hal berikut:

1. Berlindung kepada Allah dari godaan setan dengan membaca:

أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ

Aku berlindung kepada Allah dari godaan setan yang terkutuk.

2. Mengucapkan kalimat-kalimat yang baik, berdzikir, dan istighfar.

3. Hendaklah diam, tidak mengumbar amarah.

4. Dianjurkan berwudhu.

5. Merubah posisi, apabila marah dalam keadaan berdiri hendaklah duduk, dan apabila marah dalam keadaan duduk hendaklah berbaring.

6. Jauhkan hal-hal yang membawa kepada kemarahan.

7. Berikan hak badan untuk beristirahat.

8. Ingatlah akibat jelek dari amarah.

9. Ingatlah keutamaan orang-orang yang dapat menahan amarahnya.



Wallâhu a’lam.

Wasiat Muhammad Maula Aidid.

Ketahuilah wahai saudaraku, jika engkau meminta keselamatan dalam dirimu, maka engkau wajib menuntut ilmu yang bermanfaat, karena ilmu itu adalah pusat dan sumber setiap sesuatu dan kebaikan. Kebaikan, ketaatan semuanya terdapat didalam menuntut ilmu yang bemanfaat dan pengamalannya. Ilmu yang bermanfaat terdapat dalam kitab-kitab karangan Al-Imam Ghozali, maka tuntutlah olehmu kitab Bidayatul Hidayah dan Kitab Ihya 'Ulumuddin, karena kita tersebut menjelaskan kepadamu tentang ilmu yang bermanfaat dan menyelamatkan, menjauhkan dan menjaga dirimu dari perbuatan yang tidak baik. Menuntut ilmu yang bermanfaat itu merupakan pondasi. Walaupun orang yang jahil (bodoh) melakukan ibadah kepada Allah dengan melakukan ibadah seperti semua penduduk langit dan bumi, maka tetap saja orang tersebut orang yang merugi disebabkan kebodohannnya. Berhati-hatilah engkau bergaul dan berkumpul kepada orang yang buruk akhlaknya, karena pembicaraan mereka manis, tetapi perbuatannya buruk berlawanan dengan ucapannya, maka berhati-hatilah.

Dituntut engkau agar berbuat tawadhu (berendah hati) dengan semua makhluk, dan agar bersedih akan dosa-dosa dan kekurangan amal engkau, karena bersedih itu dapat menumbuhkan sifat tawadhu dan tawadhu itu merupakan tempat kebaikan semuanya, sedangkan takabur (sombong) merupakan tempat kejelekan. Tidaklah kamu dapat mengetahui untuk tawadhu kecuali dengan ilmu, maka dituntut untukmu berilmu dan mendengarkan dari ahlinya dan peliharalah selalu ilmu tersebut, karena sesungguhnya ilmu itu cahaya, kebodohan itu merupakan kegelapan. Tidak bermanfaat kebaikan seseorang dengan cahaya kesombongan dan sebaliknya dengan tawadhu seorang tidak rusak akhlaknya. Siapa yang beribadah kepada Allah tanpa ilmu akan menjurus kepada lebih banyak kerusakan daripada kebenarannya.

Dituntut atasmu berbakti kepada kedua orang tua, berbaktilah kepada keduanya, mintalah keridhoan dari keduanya dan berlemah lembutlah kepada keduanya, ayahmu, ibumu, kakekmu, nenekmu dan seterusnya keatas. Adapun dari sisi rahim (silaturahmi) seperti saudara laki-laki dan perempuan, paman dan bibimu baik dari sisi ayah maupun ibu dan terus keturunan mereka dan juga kerabatmu semuanya berbuat baiklah semampumu. Kepada Istrimu lebih lemah lembut dan pergauli dengan baik baik, terhadap pekerja/pembantu baik-baiklah terhadapnya walaupun ada kekurangannya, jika ia lalai sebutkanlah perbuatan-perbuatan baiknya yang lalu. perbaikilah akhlakmu terhadap mereka khususnya dan semua makhluk umumnya, karena kebaikan terdapat pada baiknya akhlak dan kejahatan terdapat pada buruknya akhlak.

Hati-hatilah dari perkumpulan pemimpin yang dzolim, janganlah engkau tertipu pada ucapan mereka karena dalam ucapannya terdapat penghianatan dan pengrusakan yang hanya mereka yang mengetahuinya dan janganlah ucapan mereka dan pertemuan dengan mereka dapat menipumu, karena dalam ucapannya tersebut terdapat tipu muslihat walaupun kelihatannya baik tapi didalamnya ada kejahatan, walaupun ia datang kepadamu dengan pengetahuan, akal dan ilmu semua perkataannya tipuan belaka karena perkataan dan hati mereka selalu berbeda. Janganlah sampai engkau tertipu dari ucapan mereka dan manisnya lidah mereka, bahkan jauhilah dirimu dari mereka semampumu, larilah engkau dari mereka seperti larimu dari singa, karena mereka merusak dirimu, agamamu dan duniamu kapan saja. Siapa yang mencintai dan duduk bersama mereka maka orang tersebutpun sama dalam golongan mereka.

Hati-hatilah engkau dari Ulama yang mendekati diri kepada kerajaan/pemerintah dengan tujuan mendapatkan kedudukan, kepopuleran, hasad, ghibah, memfitnah dan lainnya, mereka menganggap bahwa maksud mereka adalah baik dan tujuan mereka memberi manfaat kepada manusia, demi Allah mereka itu pendusta. Maka sangat hati-hatilah engkau dengan mereka, karena kejahatan mereka sangat jelas terhadapmu.

Bertekadlah untuk bersabar melawan hawa nafsu, karena mengikuti hawa nafsu merupakan bakteri penyakit yang berbahaya, dan tidak mengikutinya merupakan obat yang berkhasiat, akan tetapi engkau tidak akan misa mencapainya kecuali dengan pengetahuan dan ilmu, maka carilah dan tuntutlah ilmu jangan sombong dan merasa enggan bertanya kepada Ulama Akhirat dan tekunilah. Tuntutlah ilmu dari mereka dimanapun mereka berada dan jangan malas karena malas menuntut ilmu merupakan kefakiran. Kesombongan membawamu pada urusan duniamu dan membawa hawa nafsumu besar.

Aku berwasiat kepada engkau agar bermurah hati dan ringan tangan di dunia, karena orang pemurah itu dekat dengan Allah SWT. Berhati-hatilah terlalu semangat terhadap dunia, kurangilah, karena meninggalkan dunia itu lebih baik daripada engkau tenggelam didalamnya. Ketahuilah olehmu sesungguhnya mencintai dunia itu pangkal semua kesalahan. Sebagian tanda makruh kepada dunia adalah mengumpulkan harta, siapapun yang mengumpulkannya itu akan mati dan meninggalkannya, berapa waktu umur manusia di dunia ?. Aku berwasiat kepadamu dalam jiwamu wahai saudaraku, sesungguhnya hartamu itu fitnah atasmu, dan semua makhluk itu fitnah atasmu, dan semua ini fitnah-fitnah atasmu, sedangkan engkau lalai untuk mendapat ridho dari Tuhanmu dan engkau menyia-nyiakan waktu dari pagi sampai sore.

Dituntut atas kamu wahai saudaraku, menjaga keselamatan untuk dirimu, janganlah engkau mempersulit atas dirimu karena Allah SWT, dialah yang Maha Penolong, Maha membantu dari semua hamba-hambanya yang shaleh lagi arifin, tawadhu, saling berwasiat lagi saling mencintai dijalan Allah dan Rasulnya. Semoga Allah memberi manfaat kepada kami dan melindungi kami dari kejahatan nafsu dan dari tipu daya syaitan.

Terimalah wahai saudaraku nasehat ini, sekalipun kurang dan ditulis dengan terburu-buru dan tanpa hati yang hadir, jika aku menghendaki akan aku tulis seribu lembar. Mudah-mudahan Allah memperbaiki hati kami, mengampuni dosa, menerima dan memberi taubat kami, seandainya tidak ada rasa mahabbah (kecintaan) niscaya tidak ditulis lembaran-lembaran ini. Wassalam.

Boleh Melaknat Dan Mengkafirkan Orang Yang Menodai Kesucian Ahlul Bait

Para ulama telah menyatakan tentang bolehnya seseorang melaknat sesiapa yang menodai sesuatu dari kesucian Ahlul Bait berdasarkan beberapa hadis yang akan kami sebutkan dalam bab ini. Walaupun hanya dua hadis namun kami rasa memadai untuk itu dan ini juga menunjukkan pengkhususan Ahlul Bait dengan hukum ini dalam syariah Islamiah.

Hadis pertama: dari Ibnu Abbas r.a. katanya: Telah bersabda Rasulullah s.a.w.



بُغْضُ هَاشِمِى وَ اْلأَنْصَارِ كُفْرٌ وَبُغْضُ عَرَبِيٍّ نِفَاقٌ.

"Membenci Bani Hashim dan Ansar adalah kufur dan membenci orang Arab adalah nifaq". Dinyatakan oleh At-Tabarani dalam kitab Al-Kabir.

Hadis kedua diriwayatkan oleh Ali Bin Abi Talib r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:



سِتَّةُ لَعَنْتُهُمْ وَلَعَنَهُمُ اللهُ وَكُلُّ نَبِيٍّ : الزَّائِدُ فِيْ الدِّيْنِ وَالْمُكَذِّبٌ بِقَدْرِاللهِ وَالْمُتَسَلِّطُ بِالْجَبَرُوْتِ يُذِلُّ مَنْ أَعَزَّاللهُ وَيُعِزُّ مَنْ أَذَلَّ اللهُ وَالتَّنَازُلُ لِسُنَّتِيْ وَالْمُسْتَحِلُّ لِحُرُمِ اللهِ وَالْمُسْتَحِلُّ مِنْ عِتْرَتِيْ مَا حَرَمَ اللهُ

"Aku melaknat enam golongan yang juga mereka dilaknat oleh Allah dan setiap nabi yang diutus, iaitu orang yang menambah dalam kitab Allah dan orang yang mendustakan takdir Allah dan setiap orang yang mendustakan takdir Allah, orang yang berkuasa dengan kejam, menghina orang yang dimuliakan oleh Allah A.W.J. dan memuliakan orang yang dihina oleh Allah A.W.J., orang yang meninggalkan sunah ku, orang yang menghalalkan apa-apa yang diharamkan dan sesuatu terhadap keluargaku oleh Allah A.W.J." Diriwayatkan oleh Al-Hakim Ad-Darauqutni, Ad-Dailami dan Al-Khatib dalam kitab Al-Jamek
.

Adapun kufur dalam hal ini bukanlah bererti kufur yang menjadikan seseorang keluar dari agama seperti mereka yang tidak menghukum dengan ketentuan Allah, tetapi ia dibawah kadar kufur itu, begitulah Ibnu Abbas r.a. memberi penjelasan. Wallahu A'lam.

Larangan Mengganggu Keluarga Rasulullah s.a.w.

Satu hukum syarak yang juga khas mengenai Ahli Baitnya Rasulullah s.a.w. ialah larangan mengganggu mereka kerana mereka itu zuriat Rasulullah s.a.w. Siapa yang mengganggu mereka kerana keturunannya maka ia telah mengganggu Rasulullah s.a.w., dalilnya ialah seperti berikut:

1. Firman Allah SWT:

إِنَّ الَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ اللهَ وَرَسُوْلَهُ لَعَنَهُمُ اللهُ فِى الدُّنْيَا وَالاَخِرَةِ وَأَعَدَّلَهُمْ عَذَابًا مُّهِيْنً * وَالَّذِيْنَ يُؤْذُوْنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ بِغَيْرِمَا اكْتَسَبُوْ افَقَدِ احْتَمَلُوْا بُهْتَانًاوَّاِثْمًامُّبِيْنً الاحزاب:
"Sesungguhnya orang-orang yang mencaci Allah dan RasulNya maka Allah akan mengutuk mereka di dunia dan di akhirat dan akan menyediakan untuk mereka seksaan yang penuh dengan kehinaan. Dan orang-orang yang mencela kaum lelaki dan perempuan yang beriman, dengan ketiadaan kesalahan yang diperbuat mereka, sesungguhnya orang-orang itu telah memikul kebohongan dan dosa yang terang". (Q.S. Al-Ahzab:57:58)

2. Sabda Rasulullah s.a.w. yang diriwayatkan oleh Almiswar Bin Makhramah r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

فَاطِمَةُ بِضْعَةٌ مِنِّى، فَمَنْ أَغْضَبَهَا فَقَدْ أَغْضَبَنِىْ
"Fatimah adalah sebagian dariku, siapa yang memurkakannya ia telah memurkakan aku". Diriwayatkan oleh Bukhari.

3. Dari Ibnu Zubair r.a. bahawa Nabi s.a.w. bersabda:

إِنَّمَافَاطِمَةُ بِضْعَةٌ مِنِّيْ، يُؤْذِيْنِيْ مَايُؤْذِيْهَا وَيُغْضِبُنِيْ مَايُغْضِبُهَا
"Sesungguhnya Fatimah adalah sebahagian daripadaku, menyiksa aku apa-apa yang menyiksanya dan menyusahkan aku apa-apa yang menyusahkannya". Diriwayatkan Ahmad, Tirmizi dan Al-Hakim.
Saya berpendapat bahawa zuriat Fatimah adalah sebahagian daripadanya, siapa yang mengganggunya ia telah mengganggu Farimah dan siapa mengganggu Fatimah ia telah mengganggu Rasulullah s.a.w.

4. Sabda beliau s.a.w.: "Siapa yang mengganggu keluargaku walaupun sehujung rambut sekalipun, maka ia telah menggangguku dan siapa menggangguku maka ia telah mengganggu Allah". Diriwayatkan oleh Ibnu Asakir dari Al-Imam Ali r.a.

5. Sabda beliau s.a.w. dalam hadis puteri Abu Lahab ketika dikatakan kepadanya sesaat ia berhijrah bahawa hijrahmu tidak memberi manfaat apa-apa kepadamu kerana kamu adalah puteri kayu api neraka, maka marahlah Rasulullah s.a.w. setelah mendengarnya lalu berkhutbah di atas mimbarnya:

مَابَالُ أَقْوَامٍ يُؤْذُوْنِى فِى نَسَبِى وَذَوِى رَحِمِى! أَلاَ مَنْ أَذَى نَسَبِى وَذَوِى رَحِمِى فَقَدْ أَذَانِى وَمَنْ أَذَانِى فَقَدْ أَذَى ا للهَ تَعَالَى
"Mengapa masih ada sebilangan kaum yang mengganggu nasab dan keluargaku? Ketahuilah siapa mengganggu nasab dan keluargaku maka ia telah menggangguku dan siapa menggangguku maka ia telah mengganggu Allah". (Diriwayatkan oleh Ibnu Abil Asim, Tabarani dan Baihaqi dengan lafaz yang hampir sama).
.

Larangan Membenci Ahlul Bait Nabi s.a.w..

Para ulama telah menyebutkan satu hukum yang dikhaskan kepada Ahlul Bait, iaitu, haram membencinya dan siapa yang membencinya akan dimasukkan ke dalam neraka berdasarkan sabda Nabi s.a.w. dalam beberapa hadis berikut:
1. Abdullah Bin Abbas r.a. meriwayatkan bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda:

يَا بَنِيْ عَبْدِ الْمُطَّلِبِ، إِنِّيْ سَأَلْتُ اللهَ لَكُمْ ثَلاَ ثًا: سَأَلْتُهُ أَنْ يُثَبِّتَ قَائِمَكُمْ، وَأَنْ يُعَلِّمَ جَاهِلَكُمْ، وَيَهْدِيَ ضَالَّكُمْ. فَلَوْ أَنَّ رَجُلاً صَعِدَ بَيْنَ الرُّكْنِ وَالْمَقَامِ فَصَلَّى وَصَامَ ثُمَّ مَاتَ وَهُوَ مُبْغِضٌ ِلأَهْلِ مُحَمَّدٍ دَخَلَ النَّارَ
"Wahai Bani Abdul Muttalib, aku telah memohon daripada Allah untukmu tiga perkara; hendaknya Allah menetapkan penegakmu, memberi petunjuk kepada yang sesat dan memberi ilmu kepada yang jahil diantara kamu. Dan aku juga memohon daripadaNya supaya menjadikanmu pemurah, berani, membantu dan penyayang. Seandainya seseorang berdiri di barisan antara rukn dan maqam (menunaikan haji), mengerjakan solat dan berpuasa kemudian menghadap Allah dalam keadaan membenci terhadap Ahlul Bait Muhammad maka pasti ia masuk neraka". Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan berkata hadis ini sahih menurut syarat Muslim tetapi tidak diriwayatkannya dan ditetapkan oleh Az-Zahabi.
2. Dari Abu Said Al-Khudri r.a. dari Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ أَبْغَضَ أَهْلَ الْبَيْتِ فَهُوَ مُنَافِقٌ
"Siapa yang membenci kami maka ia munafik". Diriwayatkan oleh Ad-Dailami.
3. Dari Abu Said Al-Khudri r.a. katanya; telah bersabda Rasulullah s.a.w.

وَالَّذِيْ نَفْسِىْ بِيَدِهِ لاَيَبْغَضُنَا أَهْلَ الْبَيْتِ أَحَدٌ إِلاَّ أَدْخَلَهُ اللهُ النَّارَ
"Demi jiwaku yang berada dalam kekuasaanNya sesungguhnya seseorang tidak membenci kami, Ahlul Bait melainkan Allah akan memasukkan mereka ke dalam neraka", Diriwayatkan oleh Al-Hakim.
Farazdaq berkata,

حُبُّهُمْ دِيْنٌ وَبُغْضُهُمْ كُفْرٌ وَقُرْبُهُمُ مَلْجَا وَمُعْتَصَمُ
'Mencintai mereka adalah sebahagian besar dari ajaran agama, membencinya adalah kufur dan mendekatinya adalah tempat bernaung dan berlindung'.
4. Dari Abu Ibnu Abbas katanya, Rasulullah s.a.w. bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَحْيَى حَيَاتِيْ وَيَمُوْتَ مَمَاتِيْ وَيَسْكُنَ جَنَّةَ عَدْنٍ غَرَسَهَا رَبِّيْ، فَلْيُوَلِّ عَلِيًّا مِنْ بَعْدِيْ، وَلْيُوَلِّ وَلِيَّهُ، وَلْيَقْتَدِبِأَهْلِ بَيْتِيْ مِنْ بَعْدِيْ، فَإِنَّهُمْ عِتْرَتِيْ، خُلِقُوْا مِنْ طِيْنَتِيْ، وَرُزِقُوْا فَهْمِيْ، وَعِلْمِيْ، فَوَيْلٌ لِلْمُكَذِّبِيْنَ بِفَضْلِهِمْ مِنْ أُمَّتِيْ الْقَاطِعِيْنَ مِنْهُمْ صِلَتِيْ لاَأَنْزَلَهُمُ اللهُ شَفَاعَتِيْ
"Siapa ingin hidup seperti hidupku, mati seperti matiku dan menempati syurga Adn yang disediakan oleh tuhanku, maka hendaknya ia menjadikan Ali sebagai pemimpinnya selepasku, menjadikan walinya sebagai pemimpinnya dan mengikuti jejak Ahlil Baitku selepas aku, kerana mereka itu itrahku (anak cucuku), mereka diciptakan dari kejadianKu dan diberi pengertian dan ilmuku, maka Neraka Wail bagi umatku yang mengingkari keutamaan meraka, yang memutuskan hubunganku dengannya dan kelak Allah tidak memberi mereka Syafaatku". Diriwayatkan oleh At-Tabarani dan Ar-Rafi'e.(47).

Biografi Ringkas (Manaqib) Al-'Allamah Al-Habib Ahmad Bin Umar Bin Ahmad Al-Hinduan R.A.



Salasilah Nasab:
Al' Allamah Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan memiliki salasilah nasab (Keturunan) yang bersambung kepada baginda Rasulullah SAW,yaitu : Ahmad Bin Umar Bin Ahmad Bin Aqil Bin Muhammad Bin Abdullah Bin Umar Al-Hinduan Bin Ahmad Bin Hasan Al-Waraa' Bin Ali Bin Muhammad Mauladdawillah Bin Ali Bin Alwi Al-Ghuyur Bin Muhammad Al-Faqih Al-Muqaddam Bin Ali Bin Muhammad Shohib Mirbath Bin Ali Kholi' Qosam Bin Alwi Bin Muhammad Shohib Shum'ah Bin Alwi Bin Ubaidillah Bin Ahmad Al-Muhajir Bin Isa Ar-Rumi Bin Muhammad A-Naqib Bin Ali Al'Uraidhi Bin Imam Ja'far Ash-Shodiq Bin Imam Muhammad Al-Baqir Bin Imam Ali Zainal Abidin Bin Imam Hussain Assibth Bin Imam Ali Bin Abi Tholib (Bin Assayyidah Fatimah Azzahra) Binti Ar-Rasul Al-A'dhom Muhammad SAW.

Pertumbuhan Dan Pendidikan:
Allamah Al-Habib Ahmad Al-Hinduan memiliki peribadi yang mulia, berwajah lemah lembut dan berfikiran tajam. Memiliki banyak keutamaan,alim dan menguasai berbagai bidang pengetahuan.Pengarang kitab yang sarat dengan berbagai macam ilmu.Beliau tumbuh baik dalam asuhan ayahnya Al-Habib Al-Faqih Umar Bin Ahmad Bin Aqil Al-Hinduan. Disamping itu beliau juga memperoleh asuhan dari paman-pamannya dari pihak ibunya, yang juga merupakan ulama pada masa itu seperti: Al-Habib Ahmad, Al-Habib Abu Bakar yang merupakan putera-putera dari Al-Habib Al-Faqih Husain Ba Faqih RA. Kemudian beliau juga memperoleh didikan dari beberapa ulama lain seperti: Al-Mu'allim Abdullah Ba Jam'an sebagai guru dalam bidang Al-Quran. Dan beliau juga belajar kepada Al-Habib Abdurrahman Bin Abdullah Ba Harun, Al-Faqih Muhammad Bin Ahmad Ba Jubair, Syeikh Abdullah Bin Abu Bakar Al-Khotib dan As-Syarif Sahl Bin Ahmad Ba Hasan.

Beliau mempunyai perhatian dan kegemaran dalam menuntut ilmu dengan penerimaan yang baik, sentiasa melazimkan ketaatan dan ibadah di setiap kesempatan manakala tidak ada kesibukan.

Al-Quthb Al-Ghauts Al-Habib Abdullah Bin Alwi Al-Haddad, pengarang Ratib Al-Haddad menuturkan tentang pengalaman dirinya selama bersama dengan Al-Habib Ahmad Al-Hinduan. "Diantara kami dengan Al-Habib Ahmad Al-Hinduan terdapat persahabatan serta kedekatan yang tak terpisahkan, kami selalu duduk bersama dalam keramahan diberbagai kegiatan dimasa belajar kepada Al-Faqih Abdurrahman, As-Sayyid Sahl dan Al-Faqih Abdullah Al-Khotib di Zawiyah Alhajirah."

Keperibadian:
Berkenaan dengan keperibadian Al-Habib Ahmad Al-Hinduan diungkapkan oleh Al-Habib Abdullah Al-Haddad iaitu: "Al-Habib Ahmad Al-Hinduan adalah seorang tokoh yang alim, wara',memiliki ketajaman jiwa (mukasyafah), lemah lembut dan zuhud. Kami mengakui keutamaan yang dimilikinya dan berharap dapat memiliki sifat seperti beliau."

Perjalanan Hidup:
Al-Habib Ahmad Al-Hinduan melakukan perjalanan ke India dan beliau tinggal disana dalam beberapa waktu untuk membantu paman dari saudara ibunya Al-Habib Abu Bakar.
Kemudian beliau kembali ke Tarim (Yaman), dan dari Tarim beliau melakukan ibadah haji serta berziarah ke pusara kakeknya Baginda Rasulullah SAW. Semenjak itu beliau keluar masuk India sebanyak 2 atau 3 kali. Namun setelah paman beliau (Al-Habib Abu Bakar) meninggal dunia, beliau menetap di Tarim, hingga beliau wafat di sana.

Keistimewaan(Anugerah dari Allah):
Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan meraih mukasyafah pada usia 18 tahun. Yakni mampu menyaksikan perihal kejiwaan seseorang, apakah orang tersebut dalam keadaan suci ataukah berhadas. Kemudian beliau berdoa kepada Allah agar mukasyafah tersebut ditutup, dikeranakan beliau tidak mahu menatap hal-hal yang bersifat demikian.

Beliau juga memperoleh gelar "Qiblat Ad-DunYa" yang bererti kiblat dunia. Hal ini merupakan gelar penghormatan atas kepakaran beliau dalam dunia hukum islam (Fiqh), sehingga tidak tertandingi pada zamannya. Dan bukti keberhasilan beliau adalah mencetak kader, dimana muridnya yakni, Al-Habib Abdurrahman Bin Abdullah Ba Faqih yang meraih gelar "Alamat Ad-Dun Ya" yang bererti tanda dunia, yakni beliau mampu mengetahui dari bekas telapak kaki musafir dari mana dia berasal dan siapa gurunya, dan apakah guru si musafir itu masih hidup ataukah sudah meninggal. Bahkah beliau dapat membaca letak Ka'abah dari hembusan angin. Jika Al-Habib Abdurrahman Ba Faqih sedemikian luar biasa, maka bagaimana lagi dengan Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan yang selaku gurunya?!

Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan juga memiliki kekeramatan, dimana setiap beliau melaksanakan Sholat,maka terasa olehnya kenikmatan yang tak terhingga bahkan melampau segala kelazatan badani.

Dalam kitab Sabiil Al Muhtadin hal 100-118 termaktub Selawat karya Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan Radhiyaallah 'anhu yang sangat panjang. Selawat tersebut memiliki makna yang tinggi tentang tauhid dan makrifat, akhlak, pujian dan doa dengan bahasa yang indah. Kitab selawat tersebut diberi nama "Al Kawaakibul Mudhiiah Fi Sh-Shalaati' Alaa Khairil Bariyyah" yang bererti Bintang-Bintang yang bercahaya (dalam Selawat) atas sebaik-baik makhluk (iaitu Sayyidina Muhammad SAW). Selawat tersebut bagaikan cahaya bintang dilangit. Dengan kita membaca selawat dimaksud maka InsyaAllah akan mendapat limpahan cahaya, rahmat, taifiq dan hidayah dari Allah SWT dan Syafa'atnya Rasulullah Muhammad SAW. Sehingga akan mencapai derajat yang tinggi di dunia dan akhirat.

Dalam kitab Ghayah Al Qashd dikutip pernyataan singkat Al-Habib Abdullah Al-Haddad kepada Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan Radhiyallah 'anhuma. Dimana pada suatu kesempatan Al-Habib Abdullah berkata kepada Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan: "Perasaan hati kami selalu bersamamu, (duhai) engkau AL-HINDUAN".Al-Habib Ahmad Al-Hinduan menjawab: Tak ada yang dapat menyenangkan dan memperbaiki perasaan hati kami selain AL-HADDAD".

Dalam kitab Rafu Al-Astaar tertulis pengakuan langsung dari pengarangnya iaitu: Al-Habib Abdurrahman Bin Abdullah Bin Ahmad Ba Faqih. Bahwa Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan RA adalah peribadi yang alim, tersohor, dan memahami berbagai bidang ilmu. Aku telah membaca kitab dihadapannya pada berbagai kesempatan secara tekun dan mengambil manfaat dari dirinya. Dan aku telah memakai khirqah mulia (pakaian simbol sufi) dari beliau berulang kali. Dan beliau telah memberi ijazah kepadaku baik secara khusus ataupun umum. Dan aku menemani Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan RA hingga beliau wafat di tahun 1122H.

Wafat:
Al-Habib Ahmad Bin Umar Al-Hinduan RA wafat tanpa menderita suatu penyakit, pada malam jumaat tanggal 19 atau 20 shafar tahun 1122H, disemadikan di Tarim, Hadharamaut (Yaman). Dan Beliau meninggalkan banyak anak, putera dan puteri.


Sumber Daripada : Al-Habib Al-Sayyid Murtadha Bin Muhsin Al-Hinduan (Situbondo,januari 2006,Penghimpun)

Ringkasan Manaqib Al Imam Quthbil Anfas Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Attas

Beliau adalah Al Habib Al Imam Al Quthb Al Ghauts Al Alam An Nibras Umar bin Abdurrahman bin Aqil bin Salim bin Abdullah bin Abdurrahman bin Abdullah bin Abdurrahman Assegaf bin Muhammad Maula Dawilah bin Ali bin Alawi bin Al Faqih Al Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shabib Mirbat bin Ali Khali Qasam bin Alawi bin Muhammad Shahib Suma’ah bin Alawi Shahib Shumul bin Ubaidillah bin Ahmad Al Muhajir bin Isa Ar Rumi bin Muhammad An Naqib bin Ali Al Uraydhi bin Ja’far Ash Shadiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Al Imam Husein bin Al Imam Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib dan Sayyidatina Fatimah Al Batul binti Rasulullah SAW.
Beliau lahir kota Al Lisik dekat dengan kota Inat di Hadhramaut,Yaman Selatan.
Beliau memiliki anak sebanyak 14 orang anak,9 laki-laki 5 perempuan.mereka adalah Ali,Syekh Al Akbar,Syeikh,Muhsin,Musyaikh,Abdullah,Abdurrahman,Salim,Husein.anak perempuannya diantaranya Syeikhah,Alawiyyah,Fatimah,Asma dan Salma.
beliau berpesan kepada anak keturunannya bilamana mereka di dzhalimi dan mereka bersabar,Al Habib Umar bin Abdurrahman akan berperang melawan mereka yang mendzalimi,bilamana anak cucunya tidak bersabar dan melawan mereka yang mendzhalimi maka Al Habib umar tidak akan membantunya.
Beliau memiliki guru yang diantaranya Al Habib Husein bin Al Imam Fakhrul Wujud Syeikh Abu Bakar bin Salim,Syeikh Umar Barakwah Al Samarkandi,dan Sayyid Muhammad Al Hadi
Beliau memiliki maqam kewalian seperti halnya maqam Al Imam Qutbirrabani Syeikh Abdul Qadir Jailani Al Hasani.beliau memiliki derajat kewalian Al Ghauts yang berarti penghulu segala wali.
Beliau memiliki murid yang diantaranya Syiekh Ali bin Abdillah Baras,Syeikh Abdullah Ba Ubad,Al Imam Quthbil Irsyad wa Ghautsil Bilad Al Habib Abdullah bin Alwi Al Haddad, Al Habib Isa bin Muhammad Al Habsyi,Al Habib Hhmad bin Hasyim bin Ahmad Al Habsyi,Al Habib Husein bin Umar bin Abdurrahman Al Attas,Syeikh Ahmad bin Abdullah bin Umar Ba Syarahil,Syeikh Umar bin Salim Badhib,Syeikh Salim bin Ali bin Muhammad Ba Abbad,Syiekh Muhammad bin Ahmad Ba Masymus,Al Habib Ahmad bin Umar Al Hinduan,Al Habib Ahmad bin Zain Al Habsyi,Syeikh Abdullah bin Utsman Al Amudi,Syeikh Umar bin Abdul Qadir Al Amudi dan Al Habib Umar bin Abdurrahman Al Bar.
Beliau wafat 16 Rabiul Tsani 1072H di kota Huraidah.

Manaqib Shahibur Ratib Alaydrus Al- Habib Al- Imam ‘Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus Akbar

Beliau adalah seorang Sayyid dan Syarif (julukan khusus untuk keturunan Nabi Muhammad SAW) Imam para Wali dan orang-orang sholeh (Al-Qutub) beliau dijuluki Abu Muhammad dan bergelar Alydrus
Alaydrus artinya ketua orang-orang Tasawuf (tekun dalam menempuh jalan kesucian).. Beliau dilahirkan di Kota Tarim pada tanggal 10 Zulhijjah tahun 811 H.
Shahibur Ratib ini belajar Al-Qur’an dari seorang guru besar Syaikh Muhammad bin Umar Ba’alawi, dan belajar ilmu Fiqih dari guru-guru ahli Fiqih Syaikh Saad bin Ubaidillah bin Abi Ubay Abdullah Bahrawah, Syaikh Abdullah Bagasyin, Syaikh Abdullah bin Muhammad bin Umar dan lain-lain.
Beliau mempelajari dan memperdalam kitab Tanbih dan Minhaj, beliau sangat senang membaca kita tersebut. Beliau mempelajari Tasawuf dari seorang guru Al-Imam Syaikh Umar Muhdhar dan membekali dirinya sebagai seorang syufi (ahli Tasawuf), beliau sangat gemar membaca kitab-kitab karangan Imam Ghazali terutama kitab Ihya Ulumuddin sehingga hampir hafal dan pindah ke batinnya.
Beliau banyak memuji sang pengarangnya, kami diperingatkan beliau segala sesuatu mengenai terjemahan kita Ihya Ulumuddin tersebut.
Shahibur Ratib mempunyai kata-kata hikmah yang sangat tinggi mengenai Tauhid diantaranya beliau mengucapkan “ Seandainya Saya Disuruh Untuk Mengarang Dengan Hanya Huruf Alif Seratus Jilid Pasti Akan Saya Lakukan”.
Diantara karangan Beliau adalah Kitab Al-kibritul Ahmar dan syarahnya dalam bentuk syair untuk Paman Beliau Al-Habib Syaikh Umar Muhdhar.
Kata-kata beliau yang lain lagi di antaranya “Bagi saya sama saja pujian dan makian, lapar dan kenyang, pakaian mewah dan pakaian rendah, lima ratus dinar ataupun dua dinar. Sejak kecil hatiku tidak pernah condong selain kepada allah swt dan bagaimana hatiku bisa tenang apabila badan saya berbalik ke kanan saya melihat surga dan apabila berbalik ke kiri saya melihat neraka”.
Beliau sangat takut kepada Allah Swt , dan sangat tawadlu. Beliau tidak pernah merasa dirinya lebih baik, dari siapapun makhluk Allah Swt bahkan binatang sekalipun.
Beliau senantiasa bersujud di tanah karena merendahkan dirinya di hadapan Allah Swt. Beliau selalu membawa sendiri keperluannya dari pasar dan tidak mengizinkan orang lain membawanya. Senantiasa beliau duduk di tempat yang rendah, senantiasa berjalan kaki ke tempat-tempat yang jauh dan kerap kali meminum air hujan. Demikianlah beliau memerangi hawa nafsu keduniaan sejah usia 6 (enam) tahun. Al-Habib Abdullah Alaydrus Akbar berpuasa selama dua tahun dengan buka puasa tidak melebihi dari dua butir korma kecuali di malam-malam tertentu di mana ibunya datang membawa sedikit makanan. Beliau memakannya semata-mata untuk menyenangkan hati ibunya.
Gurunya Habib Syaikh Umar Muhdhar berkata “Aku mengawinkan putriku Aisyah dengan keponakanku HabibAbdullah Alaydrus Akbar disebabkan Aku mendapatkan isyarat dari sesepuhku (pendahuluku)”
Al-Habib Muhammad bin Hasan Al-mu’alim Ba’alawi berkata “Al-Habib Abdullah Alaydrus Akbar mendapatkan maqam (kedudukan) yang tidak didapati oleh orang lain. baik sebelum maupun sesudahnya”.
Al-Habib Abdullah Alaydrus Akbar telah mendapat pujian dari orang besar, para wali dan para guru, antara lain dari kakeknya sendiri Al-Imam Abdurrahman bin Muhammad Assegaf, dari ayahnya Al-Habib Abubakar Assakran, dari Syaikh Saad bin Ali Al-Majhaj, dan juga dari Syaikh Abdullah bin Tohir Al-Douanidan. Beliau dipuji pula oleh pemuka sufi wanita Al-Zubaidiah, Syaikh Ahmad bin Muhammad Al-Jabaruti, Syaikh Umar bin Said Bajabir, Syaikh Husain Al-Gharib, Syaikh Ma’aruf bin Muhammad Ba’Abbad, Syaikh Muhammad Baharmuz, dan Syaikh Abdurrahman Al-Khatib pengarang kitab Al-Jauhar.
Beberapa pengarang kitab yang bermutu memuji dan meriwayatkan beliau diantaranya Al-Yafii dalam Kitab Uqbal Barahim Al-Musyaraqah, muridnya Al-Imam Al-Habib Umar Bin Abdurrahman Ba ‘Alawi dalam kitabnya Al-Hamrah dan Syaikh Abdillah Bin Abdurrahman Bawazier, dalam kitab Al-Tuhfa, mereka mengutarakan Manaqib (Riwayat Singkat), kewalian dan keramat-keramat yang sebagaian terjadi sebelum dan sesudah beliau dilahirkan.
Sebagian para wali mimpi bertemu Nabi Muhammad Saw, yang memuji Al-Habib Al-Imam Abdullah Alaydrus Akbar dengan sabdanya “Ini anakku, ini ahli warisku, ini darahku dagingku, orang-orang besar akan mempelajari ilmu thariqah darinya”
Diantara yang mengambil dan belajar thariqah dari Habib Abdullah Alaydrus Akbar antara lain saudaranya sendiri Habib Ali Bin Abi Bakr Sakran, Habib Umar Ba’alawi (pengarang kitab Alhamrah) dan pengarang kitab Faturrohim Al-Rahman, Syaikh Abdullah Bin Abdul Rahman Bawazier, Al-‘Allamah Syaikh Abdullah Bin Ahmad Baksir Al-Makki, dan ringkasnya kebaikan dan akhlak beliau tidak terlukiskan, sedangkan ilmu dan karomahnya laksana lautan.
Al-Habib Al-Imam Abdullah Alaydrus Bin Abi Bakar Alaydrus (Shahibur Ratib) wafat pada hari Ahad sebelum waktu dhuhur tanggal 12 Ramadhan 865 H. dalam perjalanan dakwahnya dikota Syihr tepatnya di daerah Abul. Di makamkan dikota Tarim dan di bangun Kubah di atas pusaranya, beliau wafat dalam usia 54 tahun.
Beliau meninggalkan empat putera dan empat puteri. Puteranya : Abubakar Al-Adni, Alwi, Syech dan Husain. Sedangkan puterinya : Ruqayah, Khadijah, Umu Kultsum dan Bahiya.
Ibu Beliau adalah yang bernama Mariam dari seorang yang shaleh bernama Syaikh Ahmad Bin Muhammad Barusyaid. Al-Habib Muhammad Bin Hasan Al-Mualim berkata “Saya mendengar bisikan yang mengatakan “Bila kamu ingin melihat seorang ahli syurga, maka lihatlah Muhammad Barussyaid”!! (diriwayatkan oleh Al-Imam Al–Habib Muhammad bin Ali Maula aidid)”.
Sewaktu Al-Habib Imam Abdurrahman Bin Muhammad Assegaf wafat, usia Al-Habib Abdullah Alaydrus Akbar 8,5 tahun, dan pada waktu ayah beliau wafat (Abu Bakar Syakran) dan umur Beliau berusia 11 tahun setelah Ayahnya wafat Beliau tinggal dan dididik oleh Pamannya Syaikh Al-Habib Umar Muhdhar yang kemudian menikahkannya dengan puterinya Aisyah, pada saat Al-Habib Umar Muhdhar Bin Abdulrahman Assegaf wafat Al-Habib Abdullah Alaydrus Akbar kurang lebih berumur 23 tahun.
Dan ucapan Shohibur Raatib kepada murid-muridnya : “Barang siapa yang masuk dalm pendengaran yang sia-sia, mka ia telah berada dalm kerugian yang besar”.
Nasehat-nasehat beliau yang tertuang dalam kitab Al-Kibratul Ahmar :
Ø Peraslah jasadmu dengan mujahadah (memerangi hawa nafsu dunia) sehingga keluar minyak kemurnian.
Ø Barangsiapa yang menginginkan keridhoan Allah hendaklah mendekatkan diri kepada Allah Swt, karena keajaiban dan kelembutan dari Allah Swt pada saat di akhir malam.
Ø Siapapun dengan kesungguhan hati mendekatkan diri pada Allah maka terbukalah khazanah Allah
Ø Diantara waktu yang bernilai tinggi merupakan pembuka perbendaharaan Ilahi diantara Zuhur dan Ashar, Maghrib dan Isya dan tengah malam terkakhir sampai ba’da Sholat Shubuh.
Ø Sumber segala kebaikan dan pangkal segala kedudukan dan keberkahan akan dicapai melalui ingat mati, kubur dan bangkai
Ø Keridhaan Allah dan Rasul-Nya terletak pada muthalaah (mempelajari dan memperdalam) Al-Qur’an dan Hadits serta kitab-kitab agama Islam.
Ø Meninggalkan dan menjauhi ghibah (menggunjingkan orang) adalah raja atas dirinnya, menjauhi namimah (mengadu domba) adalah ratu dirinya, baik sangka kepada orang lain adalah wilayah dirinya, duduk dalam majlis zikir adalah keterbukaan hatinya
Ø Kebaikan seluruhnya bersumber sedikit bicara (tidak bicara yang jelek) didalam bertafakur tentang Ilahi dan ciptaan-Nya terkandung banyak rahasia
Ø Jangan kau abaikan sedekah setiap hari sekalipun sekecil atom, perbanyaklah membaca Al-Qur’an setiap siang dan malam hari.
Ø Ciri-ciri orang yang berbahagia adalah mendapatkan taufik dalam hidupnya banyak ilmu dan amal serta baik perangai tingkah lakunya.
Ø Orang yang berakal ialah orang yang diam (tidak bicara sembarangan)
Ø Orang yang takut kepada Allah ialah orang yang banyak sedih (merasa banyak bersalah)
Ø Orang yang raja’ (mengharap ridha Allah) ialah orang yang melakukan ibadah
Ø Orang mulia ialah orang yang bersungguh-sungguh dalam kebaikan dalam ridha Allah Swt yang didambakan dalam hidupnya
Ø Orang yang bertaubat ialah yang banyak menyesali perbuatannya, menjauhi pendengarannya yang tidak bermanfaat dan mendekatkan diri kepada Allah terutama di masa sekarang.
Sumber : Syamsisyumus.org

Perbandingan Antara Kemuliaan Ilmu Dan Nasab.

Thariqah alawiyay
Al Allamah Al –Muhaqqiq Ad –da’ilallah
Al -Habib Zain Bin Ibrahim Bin Sumaith

Perbandingan Antara Kemuliaan Ilmu Dan Nasab.

Asy –syaikh al allamah Abdullah bin ahmad basudan. 466 dlm kitb nya faidh al asrar menyebut kan bahwa sebagian ulama berkata .terjadi perbedaan diantara para imam, tentang Mana yg lebih utama antara kemulian ilmu dan nasab nabawi ? .maka semua berpandapat lebih utama yg kedua .mereka mengatakan bahwa semua itu kerena keutamaan nasab .disebabkan factor internal sedangkan keutamaan ilmu factor eksternal, lalu mereka.lebih mengunggulkan keutamaan nasab.”

Aku telah mencatat ucapan yg dinisbatkan kepada junjungan ku al –arifbilah as-sayyid wajihuddidn Abdurrahman bin musthafa al-aidrus ba alawi semoga allah menyucikan ruh beliau,yg menghimpukan perdebatan antara yg mendapat lebih utama,kemulian nasab dan yg berpendapat lebih utama kemulian ilmu..di antaranya adalah “sesungguhnya yang Berpandapat lebih utama kemulian nasab lebih banyak daripada kemulian ilmu .sesungguhnya jika seorang syarif ( bernasab ke nabi saw) hilang akal.apakah.dia tetap dijuluki syarif atau tidak? .maka jawabnya, “ya dia tetap dijuluki syarif”. “seseorang yg berilmu jika hilang akal .tidak dijuluki orang yg berilmu lagi.maka , setelah semua ini ditegakkanlah dalil dan jelas lah perbedaan antara kemulian yg berasal dari factor internal dan eksternal. .perbedaan ini diikuti dengan ketetapan bahawa kemulian yg berasal dari factor internal ini murni dari factor eksternal dan semuanya keutamaan dari allah “

Dalam biogarafi junjungan kami pemimpin orang kasyaf ( stersingkap hijap di hati mereka ) Abdullah ba hussin as- saggaf ra 467, junjungan kami wajihuddin Abdurrahaman Bin Musthafa Al-Aidarus, ,semoga allah menyucikan ruhnya, menyebutkan bebarapa orang yg dapat dipercaya telah memberitahukan kepada ku bahwa Al-Allamah , Pemimpin para syaik, abu alhasan as –sindiy al madaniy ra. 468, yg telah memberikan catatan kaki pada enam kitab hadits dan lain- lainya ,beliau ditanya di saat mengajar , siapakah yg lebih utama seorang syarif atau seorang yg berilmu ?. ketika itu dia mengalami kondisi spiritual lalu menundukan kepalanya sampai ketanah ,kemudian mengangkat kepalanya dan menjawab , seorang syarif yg bodoh – atau ,dia menjawab satu orang syarif -- lebih utama dari pada tujuh puluh ulama”

Junjungan kami Al-Imam hujjah al-islam al-ghazali rhm.
Berkata ,keutamaan nasab itu dari tiga sisi .,
kembalinya nasab itu dari kepada pohon silsilah rasulullah saw ..hal ini tiada yg menandinginya.
kembalinya nasab itu kepada ulama ,kerena mereka adalah pewaris nabi, shalawat salam allah keatas mereka.
kembali nya nasab mereka kepada orang-orang sholeh.dan bertakwa. allah swt berfirman.

Dan dulu ayahku ( kakek ) dari keduanya.adalah orng sholeh
(qs alkafi 82)

aku (menulis )berkata bahawa termasuk yg memfatwakan unggul nya kemulian ilmu ada syaikh al allamah ahmad bin muhamad bin hajar al-haitamy.rhm.
beliau mengemukakan pendapatnya dalam kitab fatwanya setelah ditanya apakah seorang syarif yg bodoh atau seorang ulama yang mengamal ilmunya yg lebih utama ? dan manakah di antara keduanya yg lebih layak mendapat penghormatan lebih ketika berkumpul ? atau jika seorang hendak mencium tangan ,mana kah di antara mereka yg harus didahulukan ?
beliau ra menjawab, “pada keduanya terdapat keutamaan yg agung .seorang syarif disebabkan dalam dirinya terdapat bagian yang mulia yang tidak dapat dibandingkan dengan apapun .disamping itu sebahagian ulama berkata .”keturunan rasullulah saw. tidak dapat dibandingkan dengan apapun. sedangkan seorang ulama yg mengamal ilmunya ,disebabkan dpat memberi memfaat bagi orang orang islam dan memberi petunjuk orang 2 yg sesat .mereka adalah penerus dan pewaris ilmu dan pengatahuan para rasul .hendaknya setiap orang memberikan hak-hak keduanya -para ulama dan syarif berupa penghormatan dan pengagungan .sedangkan jika kedua bertemu dalam satu majelis maka seorang syarif lebih didahulukan ,kerena sabda nabi saw. dahulukan qabilah quraisy dan kerena didalam nya terdapat kemulian yg mulia ( Rasullulah saw ) .


catatan akhir.
446 alimam al allamah seorang ahli fiqih . sufiyg memiliki ncita rasa spiritual ,asy –syaikh Abdullah bin ahmad bin Abdullah basauaudan al-kindiy al hadramyasy syaffii ( 1178 -1266h ) beliau adalah salah satu ulama terbesar di hadramaut di zamannya .seorang penulis yg penuh keberkahan dan manfaat ,seperti karya beliau yang berjudul alanwar al-laimiah syarh ar –risalah a-ljami “ah, dzakhirah al-ma ad bi syarh ratib al haddad ,zaitunah al ilgqah fi fiqh an –nikah .faidh al –
asrar dan uddah muszafir serta lain-lainnya .terjemah biogarafi beliau di jelaskan secara detail dalam muqadimah kitab al anwar al-lamiah karya beliau.

467. seperti biogarafi beliau dalam kitab as ,sana al bahir. Beliau wafaf di kota
tarim pada tahun 995h.

468. al allamah ,seoarang ahli hadis abu al hassan Muhammad abib bin ahmad bin ali as sindiy al –anshary – al- hanafiy ( wafat pada tahun 1257) .beliau adalah pemimpin ulama di madinah al- munawah dan termasuk salah satu pemimpin hadits dizamannya .beliau memiliki bebarapa karya tulis seperti ; hasru asy-Syarid Min Asanid Muhammad Abib Tartib Musnad Al-Imamasy –Syafi i dan sejumlah cacatan kaki pada kitab hadist,serta lain-lainnya.

469 “dahulukan quraisy dan jangan kalian mendahului mereka” hr al –bazzar dalam musnad ( 2:112) disampaikan oleh ali ra al hafizh dalam kitab alfath ( 6;530) hr abdurraazzaq dgn sanad yg shahih akan termasuk hadits mursal” .